#DuaPuluh

1.4K 254 15
                                        

Bismillah..

Gisella melangkah keluar dari garasi dengan pandangan kosong. Kalimat Abyan tadi masih mengusai pikirannya sampai sekarang. Bahkan meski tadi Andini dan Roni datang, ia tetap tidak bisa mengenyahkan momen itu dari kepalanya.

Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya gugup. Sebenarnya ini kedua kalinya Abyan memujinya cantik, tapi entah kenapa efek kalimat pemuda itu lebih besar dari yang sebelumnya.

Ah iya, mungkin karena sekarang gue suka sama dia ya, batinnya sambil tersenyum malu.

Saat sedang asyik memikirkan kejadian manis itu, tiba-tiba saja pintu rumahnya terbuka sendiri membuat Gisella yang hendak berjalan masuk reflek menahan langkah. Matanya mengerjap saat melihat seseorang yang ia kenal berdiri disana, membalas tatapan gadis itu dengan kedua alis terangkat.

"Gisella?" kata pemuda itu kaget.

Gisella yang bertatapan dengan pemuda itu reflek menganga maksimal. Sebentar ... Kok Kelvin tiba-tiba keluar dari rumahnya begini?

"Lo ngapain disini?" tanya Gisella akhirnya. Masih agak shock karena Kelvin tiba-tiba keluar dari rumahnya.

"Nemenin Papa, lo tinggal disini?" tanya Kelvin balik. Gisella mengangguk kuat membuat pemuda itu mengerutkan kening, "Aneh, kok kita gak pernah ketemu?" ujar cowok itu bingung. 

Gisella jadi ikut mengerutkan kening heran, "Maksud lo? Emang lo sering ke sini?" tanya gadis itu.

Sebelum Kelvin menjelaskan tiba-tiba Papa Kelvin dan Papa Gisella keluar dari rumah. Ekspresi Papa Kelvin -Darajat- terlihat ramah saat melihat Gisella, bertolak belakang dengan ekspresi Papa Gisella -Deva- yang terlihat datar saat melihat anaknya. Gisella menelan ludah, lalu tanpa sadar agak berdiri merapat pada Kelvin, menyembunyikan diri dari papanya sendiri.

"Wah, kamu anaknya Deva juga, kok gak pernah kelihatan? Siapa namanya?" tanya Darajat ramah. Gisella meringis lebar.

"Gi-Gisella Om," katanya malu-malu.

Kedua alis Darajat terangkat seolah pernah mendengar nama itu, "Gisella?" ulangnya.

"Gisella ini teman sekolah yang waktu itu aku ceritain Pa," tambah Kelvin tenang. Gisella mendelik.

Eh? Ceritain gimana?

Darajat membulatkan mulut lalu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.  "Kelvin sering banget cerita tentang kamu, katanya kamu yang bikin dia berani protes sama saya soal nilainya," kata Darajat membuat Gisella mendelik panik. Takut dimarahi. Tapi ternyata Dajarat malah tersenyum lagi, "terimakasih ya Gisella udah bikin Kelvin mau bicara sama saya soal perasaannya, Kelvin anaknya terlalu serius makanya susah diajak ngobrol," katanya lalu tertawa lebar membuat Kelvin mendengus.

Gisella meringis kembali. Ia kira papanya Kelvin tipe-tipe bapak cool yang suka membebani anaknya dengan perintah-perintah mutlak.  Tapi ternyata tidak, Darajat malah terkesan seperti orang tua gaul yang akrab dengan anak-anaknya. Yah, mungkin sebenarnya permasalahan Kelvin bukan ada pada papanya, tapi karena perbedaan sifat mereka. Darajat tipe orang yang simple dan suka bercanda mengingatkan Gisella pada Abyan atau Roni, sedangkan Kelvin sangat kaku dan serius.

"Jadi kenapa Gisella jarang kelihatan? Padahal tiap minggu malam biasanya Om sama Kelvin kesini lho," kata Darajat membuat lamunan Gisella langsung buyar.

Gisella mengulum bawah bibir. "Eh itu .." gadis itu melirik ke arah papanya yang masih memasang wajah datar untuk sejenak, "ti-tiap malam Gisella sibuk ngerjain tugas Om," jelasnya gugup.

Yah, Gisella gak sepenuhnya bohong. Meski sebenarnya yang menyuruhnya untuk tidak turun kalau tamu spesial datang adalah neneknya tapi gadis itu tidak bohong kalau yang ia kerjakan selama mereka datang adalah mengerjakan tugas.

Me Vs Inscurities [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang