#DuaPuluhTujuh

1.3K 246 24
                                        

Bismillah...

Koridor rumah sakit terasa sangat mencekam saat Gisella berjalan di sana. Kepalanya terasa pening luar biasa dengan keringat dingin yang membanjiri pelipis. Wajahnya pucat dengan tangan yang sejak tadi tak bisa berhenti gemetar.

Ini salah Gisella.

Ini salah Gisella.

Kalau Gisella tadi gak telfon Mama, Mama bakalan baik-baik aja.

Ini salah Gisella.

"Gis!"

Gadis itu tersentak saat merasakan sebuah tepukan keras di bahunya, membuat semua kalimat yang sejak tadi tak bisa berhenti terputar di benaknya seperti kaset rusak menguap begitu saja. Gisella lalu menoleh, menatap Ghea yang ternyata menepuk bahunya.

"Mama ... Mama gimana?" tanya gadis itu dengan suara tercekat.

Ghea tidak menjawab hanya menatap Gisella dengan tatapan kosong lalu menarik tangan adiknya itu menuju ke ruangan UGD. Di depan ruangan itu ia melihat papanya menangis sambil menundukkan kepala dalam, sedang disebelahnya ada Gaizka yang menangis dengan keras.

Jantung Gisella mencelos. Ini pertama kalinya ia melihat Papa menangis membuat perasaan gadis itu jadi makin kacau.

"Kak, Mama baik-baik saja kan? Tadi Gisella masih ngobrol  sama Mama, Gisella tadi juga peluk Mama, Mama pasti baik-baik saja sekarang, Mama gak sakit, Mama gak mungkin ninggalin kita kan kak?" racau gadis itu frustasi.

Ghea lagi-lagi hanya diam, namun air matanya menetes perlahan seolah sudah memberi jawaban atas pertanyannya membuat Gisella langsung terduduk lemas.

"Mama ... udah gak ada Dek," ucap Ghea getir.

🐻🐻🐻

Sejak Mama meninggal, keluarga Gisella yang awalnya harmonis berubah menjadi sangat muram. Deva -Papa Gisella- menyibukkan diri dengan bekerja untuk menghilangkan rasa sedihnya, sedangkan Ghea dan Gaizka memilih untuk aktif di sekolah karena berada di dalam rumah selalu membuat mereka kembali sedih dan mengenang Mama.

Hanya Gisella yang tetap mengurung diri di rumah. Terus-terusan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada mamanya. Ia sibuk berandai-andai jika malam itu ia tidak menelfon Mama dengan suara menangis, Mama pasti tidak akan membawa mobil dengan cepat dan berakhir menabrak pagar pembatas jalan. Yang pada akhirnya pemikiran itu malah membuatnya semakin frustasi.

Selama mengurung diri, hanya Evan yang selalu ada untuknya. Pemuda itu selalu menghubungi Gisella setiap hari, menanyakan kabarnya, mengantarkan makanan dan melakukan hal-hal manis yang membuat Gisella sedikit demi sedikit mau membuka diri pada kehidupan luar. Bahkan karena Evan jugalah ia mau kembali bersekolah setelah bolos selama dua minggu penuh. Sayangnya setelah lulus SMP, Evan pindah keluar negri meninggalkan Gisella yang untungnya sudah jauh lebih baik karena kehadirannya.

Nino sendiri tidak pernah muncul lagi dalam kehidupan Gisella. Bi Darmi bilang sahabatnya itu sempat datang ke rumah dan langsung diusir oleh Papa Gisella karena papanya merasa kecelakaan hari itu disebabkan oleh Nino. Namun meski begitu, semenjak pemakaman Mama, Papa tak pernah lagi mau melihat wajah Gisella sampai sekarang membuat gadis itu merasa mungkin Papa juga membencinya seperti Papa membenci Nino.

🐻🐻🐻

Empat tahun kemudian ....

"Jadi menurut lo gue yang bikin Mama Gisella kecelakaan?" tanya Nino setelah mendengar cerita Abyan.

Abyan mengedikkan bahu, tatapannya mengarah ke arah langit yang masih menurunkan gerimis, "Bisa dibilang lo salah satu faktor yang bikin Mama Gisella kecelakaan," ucapnya kemudian.

Me Vs Inscurities [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang