Bismillah..
Gisella adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan membuat hidupnya nyaman. Waktu kecil ia gampang sekali tertawa. Membuat semua orang di sekitarnya sangat menyayanginya. Hingga hari itu tiba, hari dimana gadis periang itu kehilangan tawanya.
"Kalau diperhatiin Gisella itu beda banget ya sama Ghea?"
Kalimat itu berasal dari mulut neneknya. Gisella yang sedang menyusun lego jadi mendongak, menatap neneknya bingung.
"Beda gimana Ma?" tanya Mama Gisella pada mertuanya. Memasang wajah tak nyaman.
Nenek Gisella menghela napas.
"Perhatiin kulitnya, warna kulitnya sama kayak kamu bukan kayak papanya," kata neneknya pedas.
Gisella mengerjap, menatap mamanya yang terlihat tersenyum tegar.
"Hidungnya pesek juga mirip sama kamu, sampai sekarang saya gak ngerti kenapa Deva mau menikah dengan kamu," tambah neneknya sambil memijat pelipisnya.
"Saya kasihan sama Gisella."
Gisella terdiam. Memperhatikan tangannya. Bertepatan saat itu Ghea muncul dan duduk di sebelah Gisella. Membuat mata Gisella membulat menyadari perbedaan kontras warna kulit mereka.
"Adek, main sama Gaizka yuk," ajak Ghea lembut sambil menarik tangan Gisella.
"Nah lihat, kalau duduk berdua seperti ini semua orang juga akan kasihan sama dia," kata neneknya lalu berdiri dan meninggalkan mereka bertiga tanpa merasa bersalah.
Gisella benar-benar tidak mengerti. Yang ia lakukan saat itu hanya memandang kakaknya yang berlari ke arah mamanya yang terisak.
Apakah ia yang membuat mamanya menangis?
Setelah hari itu Gisella tidak pernah tertawa riang lagi di depan keluarganya. Ia berubah menjadi gadis pemurung di rumah. Saat lebih besar, ketika lebaran datang, gadis itu bahkan menolak untuk bertemu keluarga besarnya.
Karena kalimat,
"Aduh Ghea cantik banget, beda banget sama Gisella!"
"Lho? Gisella adik kandung Ghea?"
"Hem, beda ya.."
"Saya kira Gisella kakaknya Ghea."
Mulai membuatnya frustasi.
🐻🐻🐻
Ghea menghela napas berat, naik ke atas kasurnya dan berbaring di sana dengan wajah sedih. Tak lama setelah bertemu Ghea, Gisella pun pulang ke rumah. Abyan mengantar keduanya sampai di depan pintu mobil karena keasyikan ngobrol dengan kakaknya.
Setiap orang yang bertemu Ghea pasti selalu begitu. Tak mau berpisah cepat-cepat karena kakaknya cantik dan ramah, tidak seperti Gisella yang jutek dan jelek.
Gadis itu menghembuskan napas, merasa matanya basah lagi. Selama di perjalanan ia berusaha menahan tangis yang bisa pecah kapan saja. Sayangnya Ghea tidak pernah peka, ia malah makin memperparah keadaan dengan membahas soal Abyan selama perjalanan pulang.
Ghea jarang sekali begini. Biasanya ia tidak pernah tertarik membahas teman cowok Gisella. Tapi kali ini berbeda, Ghea jelas sekali tertarik dengan teman sebangkunya itu.
"Ya pantas aja sih, Abyan kan cakep, gak kayak teman gue yang biasanya," ucap Gisella sambil memeluk guling.
Air matanya luruh lagi karena mengingat fakta itu.
"Haaah, padahal gue mulai nyaman sama Abyan, tapi kenapa dia harus ketemu kakak sih," rengeknya sambil mengusap mata.
Gisella menarik napas lalu menghembuskannya kuat. Tangannya terkepal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)