Epilog

3.8K 418 232
                                        

Bismillah...

Tiga tahun kemudian..

"Terimakasih untuk pernyataannya kak, tapi maaf Gisella gak bisa nerima kakak karena sudah ada orang yang Gisella sukai," kata gadis dengan jilbab coklat itu sambil menundukkan kepalanya sedikit membuat laki-laki dengan hodie berwarna hijau army yang berdiri di depannya menghela napas kecewa.

Pemuda itu memaksakan seulas senyum tipis saat Gisella mengangkat wajah dan menatapnya, "Ya udah, terimakasih jawabannya Gisella, semoga hubungan kamu sama dia lancar ya," ucapnya berusaha terlihat tegar.

Gisella mengangguk kuat lalu membalas senyum seniornya itu dengan senyum manis, "Terimakasih doanya kak, semoga kakak menemukan yang lebih baik dari Gisella," katanya tulus.

Setelah selesai menyatakan perasaan pemuda itu pergi dan meninggalkan Gisella sendirian, membuat dua teman Gisella yang sejak tadi memantau dan bersembunyi di balik pilar kampus langsung keluar dan bersorak heboh. Gisella menolehkan kepala dan terkekeh kecil.

"Mari kita ucapkan selamat kepada Bang Joe sebagai korban patah hati Gisella yang ke enam untuk bulan ini!" seru Azura sambil bertepuk tangan. Ririn yang berdiri di sebelahnya ikut tepuk tangan.

"Parah sih Gis yang nyatain perasaan sama lo makin lama makin keren aja, kemarin si Aji ketua HMJ kita, sekarang bang Joe anak BEM, besok siapa lagi nih? Jangan-jangan Presma," tebak Ririn.

"Gak tertutup kemungkinan sih Rin, calon Presma tahun ini kan sahabatnya Gisella, si Kelvin," kata Azura lalu mendengus pelan saat membayangkan wajah cowok itu, "mana Kelvin cakep banget lagi, hidup lo enak banget sih Gis," decak gadis itu jadi gemas sendiri.

Gisella menanggapi kalimat yang hampir seribu kali didengarnya itu itu dengan tawa kecil, "Gak mungkin lah, gue sama Kelvin itu cuma sahabatan, lagian gue juga tau orang yang dia suka siapa, jadi gak mungkin di antara kami ada cinta-cintaan," kata gadis itu yakin.

Azura mencibir, "Cih, mana ada persahabatan antar cewek dan cowok," kata gadis itu tak percaya.

Gisella mengangguk santai, "Bisa aja, asal hati lo sama dia sama-sama kuat dan gak baperan," katanya.

Gadis itu lalu mengeluarkan hapenya dari dalam saku karena terasa bergetar. Nama Nino muncul di layar ponselnya membuat gadis itu tersenyum kecil.

"Gue duluan ya, udah dijemput," kata Gisella membuat Ririn dan Azura yang masih ingin membahas tentang Kelvin jadi kecewa.

"Yah kok udahan sih, kan kami masih pengen ngobrol sama lo Gis, ya udah deh, hati-hati ya," kata Ririn.

Gisella mengangguk.

"Maaf ya gue gak bisa ngobrol lama, daah," ucap gadis itu lalu melambaikan tangan sesaat sebelum membalikkan tubuh ke arah parkiran.

Ririn dan Azura memandangi kepergian gadis itu sambil menghela napas.

"Gisella tuh cantik banget ya," celetuk Azura tiba-tiba membuat Ririn yang berdiri di sebelahnya jadi melirik dan mengangguk samar.

"Iya, banget," kata Ririn lalu tersenyum tipis.

Di lain sisi, Gisella berjalan riang ke parkiran kampus. Ia selalu tersenyum ramah saat beradu pandang dengan orang yang ditemuinya di jalan membuat orang yang awalnya memasang wajah datar saat berjalan jadi gelagapan dan membalas senyum gadis itu.

Saat berjalan di bagian kampus yang agak sepi gadis itu menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Pernyataan cinta yang didapatkannya kali ini entah kenapa membuatnya teringat dengan seseorang yang selalu ia tunggu sedari dulu.

Me Vs Inscurities [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang