Bismillah...
Gisella menopang dagu sambil memainkan pensil mekaniknya. Tatapannya fokus ke arah buku cetak, mencoba fokus membaca baris per baris meski sejujurnya pikirannya mengawang kemana-mana.
Gadis itu mendesah pelan, melirik sedikit ke arah Kelvin yang terlihat serius duduk di sebelahnya, sibuk mencari materi di laptop. Ekspresi serius cowok itu membuat Gisella tak bisa menahan senyum.
Masyaallah ganteng banget, pujinya dalam hati sambil terus memandangi Kelvin.
Merasa ada yang menatapnya lama Kelvin lalu melirik balik ke arah Gisella. Gadis itu tersentak lalu buru-buru kembali membaca buku cetak.
Astaghfirullah, jaga pandangan Gis! batinnya.
Awalnya Gisella kira Kelvin mengajaknya mengerjakan tugas berdua saja. Cewek itu sampai GR dan bingung mau menolak bagaimana karena ia tidak terlalu nyaman berdua saja dengan laki-laki. Tapi ternyata Kelvin juga mengajak Cika dan Yara, membuat Gisella baru sadar jika ia dan cowok itu berada dalam kelompok agama yang sama.
Untung tadi Gisella tidak buru-buru menolak. Kan tengsin kalau ketahuan gr!
"Gis, di materi kita kan ada ayatnya nih, trus besok yang ngaji siapa?"
Pertanyaan itu membuat Gisella menoleh ke arah Yara yang duduk di sebelah kirinya.
"Lo juga boleh," kata Gisella. Yara menggeleng dua kali.
"Jangan gue deh. Suara gue gak bagus. Lo aja gimana?" tembak Yara begitu saja. Gisella mendelik.
"Eh enggak ah, ayatnya panjang," tolaknya langsung. Cika bergumam.
"Iya, lo aja deh Gis," dukung Cika membuat mata Gisella melotot.
"Lah? Kok jadi gue sih?" katanya panik. Ia lalu menoleh ke arah Kelvin, bersiap untuk menunjuk cowok itu, tapi bibirnya kembali mengatup saat melihat Kelvin ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Gisella menelan ludah lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mendadak salting.
"Gue juga setuju, lo aja Gis," ucap Kelvin pelan membuat tungkai Gisella langsung melemas.
Kalau Kelvin yang minta kok efeknya beda ya? batinnya.
Gisella menghela napas pelan lalu menganggukkan kepalanya sekali membuat Yara dan Cika tersenyum lebar sedangkan Kelvin hanya tersenyum tipis di sebelahnya.
"Ya udah deh, tapi kalau suara gue gak bagus jangan nyesel ya," putus Gisella sambil mengedarkan pandangan ke arah ketiganya.
Yara mengangguk kuat lalu langsung merangkul Gisella senang. "Gak mungkin jelek, lo kalau ngomong aja merdu," puji Yara. Gisella mencibir.
"Yara kalau ada maunya manis banget yaaa," ucap gadis itu sambil mencubit pipi Yara gemas membuat Cika tertawa.
Kelvin diam saja kali ini, tidak ikut bercanda dengan mereka bertiga, tapi tatapannya masih terarah pada Gisella, ia tersenyum sebelum kembali fokus ke laptopnya karena diam-diam membenarkan pendapat Yara.
🐻🐻🐻
"Yara dan Alif itu pacaran?"
Gisella tersentak saat mendengar pertanyaan itu tiba-tiba. Ia baru saja melambaikan tangan pada Yara yang dijemput Alif pulang sebelum Kelvin muncul di belakangnya.
"Enggak, sahabatan aja," jawab Gisella sambil mengibaskan tangan.
Kelvin membulatkan mulut, "Ooh," ucapnya.
Gisella lalu menundukkan kepala sambil pura-pura mengatur tali tasnya. Kembali gugup karena saat ini hanya ada mereka berdua di depan perpustakaan. Cika sebenarnya tadi bersama mereka, tapi mendadak belum bisa pulang karena ada urusan dengan wali kelas.
Gadis itu berdehem pelan membuat Kelvin meliriknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)