Bismillah...
Gisella baru saja turun dari lantai dua untuk mengambil nasi saat melihat neneknya sibuk memerintah asisten rumah tangga mereka. Gadis itu menelan ludah, agak merasa sangsi untuk melanjutkan langkah karena bertemu dengan neneknya adalah hal yang sangat ia hindari.
Tapi karena cacing di perutnya sudah bernyanyi semakin keras ia tak ada pilihan lain selain tetap berjalan ke sana.
"Pagi Nek," sapa Gisella.
Nenek melirik sejenak lalu berdehem saja membuat Gisella jadi mengatupkan mulut dan tersenyum canggung sambil berjalan ke arah rak piring.
"Ghea mana?" tanya neneknya saat Gisella sedang mengambil nasi. Gisella menoleh ke arah neneknya.
"Ada di kamar Nek," jawab Gisella.
"Panggilin dia, Gaizka juga," ucap neneknya datar tanpa menatap Gisella sama sekali.
Gisella mengangguk patuh lalu segera berjalan kembali ke kamarnya sambil membawa makanan ke lantai atas.
Namun sebelum benar-benar keluar dari dapur neneknya memanggil kembali membuat gadis itu jadi membalikkan badan.
"Ya Nek?"
Kali ini Nenek menatapnya, meski dengan tatapan dingin.
"Sampai nanti siang kamu jangan turun ke lantai bawah. Kita ada tamu penting hari ini," ucap neneknya.
Gisella mengerjapkan mata dua kali karena bingung lalu menoleh ke arah asisten rumah tangganya yang menatapnya dengan tatapan kasihan.
Paham dengan apa yang terjadi gadis itu hanya menghela napas lalu memaksakan seulas senyum, "Baik Nek," ucapnya sebelum membalikkan badan dan berjalan kembali masuk ke kamarnya.
🐻🐻🐻
Meskipun neneknya hanya melarang gadis itu turun sampai siang, nyatanya sampai malam hari Gisella tak keluar-keluar dari kamarnya. Bukannya berniat melawan, tapi gadis itu memang cukup jarang turun ke lantai satu kalau bukan karena hal penting. Contohnya makan.
Jadi karena tadi ia sudah membawa makanan ia tak perlu turun lagi. Bagi Gisella sepiring nasi, dua bungkus roti, satu cup mie instan dan dua buah apel lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutnya sampai malam. Sedangkan untuk minum, Gisella punya dispenser sendiri di kamarnya.
Untuk mengisi waktu Gisella mengerjakan tugas-tugasnya yang sudah mulai menumpuk. Gisella bahkan masih duduk di depan meja belajarnya pukul 10 malam. Sibuk mengerjakan soal-soal kimia yang tak ada habisnya. Konsentrasinya baru terpecah saat ponselnya tiba-tiba bergetar berturut-turut membuat gadis itu mendengus pelan.
"Siapa sih yang ngespam jam segini?" gerutunya sambil meraih hape. Namun seketika matanya membulat saat membaca pesan yang ada di sana.
Abyan :
Gisella
Tolong
Gue gak tau lagi harus gimana
Disini gak ada orang
Gue gak tau mau minta tolong ke siapa lagi selain sama lo
Gisella sangat panik saat membaca chat itu. Mendadak tugas kimianya yang masih tersisa dua nomor lenyap dari pikirannya. Gadis itu menggigit bagian bawah bibir lalu tanpa pikir panjang langsung menelfon nomor Abyan. Jantungnya berdebar cepat karena takut teman sebangkunya itu kenapa-kenapa.
Namun panggilan Gisella tidak kunjung dijawab Abyan membuat gadis itu makin kalut.
"Astaghfirullah By, lo dimana sih?" ujar gadis itu sambil kembali menelfon Abyan.
Abyan baru mengangkat panggilan itu pada panggilan kelima membuat Gisella langsung menghembuskan napas lega. Gadis itu bahkan tanpa sadar sudah menangis saking paniknya membuatnya harus berdehem-dehem dulu sebelum mengatakan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Fiksi Remaja"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)