Bismillah..
Abyan melangkah tenang memasuki warung bakso di jalan baru itu, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari kursi kosong. Senyumnya mengembang saat matanya menemukan meja kosong dengan empat kursi, membuatnya langsung memutuskan untuk duduk di sana.
"Duduk di sana aja yuk," ajak Abyan sambil menolehkan kepala ke arah Yara dan Gisella yang dari tadi asyik mengobrol.
"Gue sebelah Gisella!" seru Yara langsung.
Abyan mengangguk pasrah, "Iya, iya," ucapnya.
Pemuda itu lalu menarik kursi dan duduk, ia sudah pasrah kalau momen berduanya dengan Gisella berakhir menyedihkan, namun tak disangka-sangka Gisella menarik kursi yang ada di depannya membuat mata pemuda itu membulat.
Mereka jadi berhadapan sekarang.
"Kenapa?" tanya Gisella saat melihat Abyan menatapnya kaget.
Pemuda itu terbatuk kecil, "Ah enggak, gak apa-apa," katanya salah tingkah lalu langsung memalingkan pandangan.
Setelah memesan ketiganya lalu menunggu pesanan sambil mengobrol. Lebih tepatnya Gisella dan Yara yang mengobrol sedangkan Abyan hanya duduk diam mendengarkan sambil bertopang dagu. Pembahasan mereka berdua benar-benar tidak dimengerti oleh pemuda itu.
Saat asyik-asyiknya membahas novel kesayangan mereka, tiba-tiba hape Yara berbunyi membuat gadis itu buru-buru membuka tas karena nada dering hapenya cukup berisik. Mata gadis itu membulat saat melihat sebuah nama yang muncul di layar hapenya.
"Ha-hallo?" katanya agak gugup.
"....."
Yara langsung meringis sambil menjauhkan hape saat mendengar teriakan di seberang. Gisella dan Abyan yang sedamg menumpukan atensi padanya jadi ikut meringis.
"Gue gak nyuruh lo buat nunggu kan?" jawab Yara kemudian. Ia mengerucutkan bibir sambil mendengarkan kalimat si penelfon. Kedua alisnya bertaut.
"Gue udah pesan bakso lho Lif, masa gue tinggal?" ucap Yara yang ternyata sedang ditelfon oleh Alif. Gadis itu menghela napas lalu mengangguk mengerti.
"Ya udah deh, gue tanya abangnya dulu, baksonya bisa dibungkus apa enggak," putus Yara kemudian.
Mendengar kata 'dibungkus' kedua alis Abyan menjadi terangkat disusul dengan senyumnya yang mengembang membuat Yara yang menyadari itu jadi mendengus kesal. Aksi balas dendamnya pada Abyan harus gagal karena Alif meminta gadis itu untuk pulang sekarang juga.
"Cepat ya Lif, daah," ucap Yara sebelum mematikan sambungan telfonnya.
Gadis itu lalu menoleh ke arah Gisella yang sejak tadi memperhatikannya, "Maaf ya Gis, gue kayaknya harus pulang duluan deh, Alif tadi marah-marah karena gue pulang gak bilang-bilang," kata Yara.
Gisella mengerutkan kening, "Yah, trus gimana dong? Jadi kita pulang aja nih?" tanya Gisella dengan nada kecewa. Yara menggeleng dua kali.
"Jangan, nanti kalau lo ikutan pulang abang baksonya bisa marah," ucap Yara tak setuju.
Gisella menghela napas lalu memalingkan wajah kepada Abyan, "Gak apa-apa nih By kalau kita makan berdua aja?" tanya gadis itu. Abyan langsung mengangguk.
"Gak apa-apa kok La," jawab pemuda itu cepat membuat Yara diam-diam mencibir.
Gisella terkekeh, "Bagus deh kalau begitu," katanya.
"Ya udah, kalau gitu gue ke Abang baksonya dulu ya, mau bilang ke abangnya kalau pesanan gue dibungkus aja," ucap Yara sambil berdiri dari duduknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Vs Inscurities [SELESAI]
Teen Fiction"Sebenarnya siapa sih yang bikin defenisi cantik itu putih? Kayaknya kalau gue ketemu orangnya bakalan gue hajar." ...... Sejak kecil, Gisella sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Wajahnya yang tidak secantik saudaranya membuat Gisella merasa...
![Me Vs Inscurities [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/233195282-64-k931990.jpg)