Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SUSUNAN kain indah nan menawan telah menyinggahi dinding-dinding hingga atap rumah sederhana dua tingkat itu. Kain-kain Menggunakan warna gold dan putih guna menyuguhkan suasana elegan di hari yang sakral nan suci ini.
Para tamu undangan berangsur dari satu ke dua hingga membeludak memenuhi luar, dalam, barat, timur hingga selatan. Pokonya semua sudut telah di penuhi oleh insan bernyawa yang mengenakan pakaian sangat rapi, tak melupakan warna dari tema pernikahan ini, ya gold.
Namun warna itu lebih dominan berlaku untuk para wanita. Karena bagaimanapun pun para pria tetap menggunakan jas kebanggaannya. Apalagi di acara seperti ini, ada pula yang mengenakan batik khas Indonesia namun tak terlalu banyak.
Riuh suara para tamu ketika mengobrol berganti sunyi bak siswa yang kedatangan guru. Alasannya, Pak penghulu datang begitu gagahnya walaupun tak muda lagi usianya.
Penghulu mengenakan jas berwarna hitam, peci berwarna senada, sorban putih yang menggantung di pundaknya begitu menggambarkan pak penghulu sekaligus pak ustaz.
Fariz sangat gugup hari ini. Peluh tak berhenti beterjunan dari dahi melewati pelipis, Jika tak ia lap dengan tangannya mungkin akan melewati telinga juga, begitu parahnya. Ketegangan ketika berhadapan dengan seorang atasan atau direktur-direktur luar yang lebih sukses dari dirinya kalah dengan kedatangan pak penghulu saja.
Di ruangan yang lumayan sempit ini tak terlihat sama sekali si pengantin wanita. Bukan melarikan diri. Hanya saja si pengantin wanita masih mengurung diri di kamarnya sendiri sebelum sah menjadi seorang istri. Itu salah satu persyaratan menikah syar'i, melarang pengantin wanita bersanding duduk berdua sebelum sah.
"Nggak nyangka gue. Pak Fariz nikah sama Haura, si karyawan baru itu."
"Bos idamanku nikah dengan karyawan baru."
"Ya Allah, kalau boleh, gue kacauin ini semua."
"Astagfirullah, nyebut-nyebut."
"Mau nyanyi 'harusnya aku yang di sana' aja dah gue."
Masih banyak lagi cibiran dari para karyawan-karyawannya. Tentu, karyawan itu yang menaruh hati dan perhatiannya untuk sang atasan, namun lihat, siapa sekarang yang ia pinang? Ya seorang pegawai baru. Tak heran jika banyak cibiran yang mendominasi rasa cemburu.
Detik, detik ketegangan pun bermula dari sekarang, Wali dari pengantin wanita mengulurkan tangannya, Fariz membalas uluran tangan itu. Wali melafalkan Ijab harus lengkap dengan nama pengantin wanita dan pria, wali-wali nya dan besarnya mas kawin juga harus di ucapkan. Wali mengucapkan dengan sangat lantang dan Andal.