Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
“Pikiran negatif acap kali menghampiri jika kondisi hati sedang gelisah. Namun, jangan biarkan pikiran negatif itu mengambil alih sisi positif dari kita. Agar suatu hal yang kita pikirkan itu tak akan terjadi hanya karena sisi negatif.” — CDR
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAURA tengah menyenderkan kepalanya ke sandaran kasur, atensinya terus mengarah ke lelaki yang tengah merapikan kemeja yang di pakai, tak hanya itu rambut pun lelaki itu rapikan. Pandangannya mengekor saat Fariz mengambil jas dari lemari. Lalu pandangannya berpindah melihat perutnya yang sudah semakin membuncit. Kedua kakinya membengkak. Pipi yang tirus itu pun kini terlihat chubby. Usia kehamilan Haura sekarang menginjak sembilan bulan. Yang mana, perubahan bentuk tubuh pasti akan terlihat sangat jelas.
Mood yang kadang naik turun itu pun masih sering di alami Haura. Hanya saja, ngidam yang anehnya sudah tidak seperti saat kandungan masih muda. Atensinya lagi dan lagi mengarah ke lelaki itu yang sudah berjas lengkap dengan dasi, di perhatikan dari kejauhan maupun dari dekat lelaki itu sangat tampan. Badannya cocok jika mengenakan pakaian formal begitu.
“Sayang,” panggil Haura membuat lelaki yang memiliki iris mata kebiruan itu menoleh.
“Sayang nggak akan ninggalin Haura, kan?”
Fariz sedikit berpikir “Kenapa bertanya seperti itu?” Pertanyaan yang Haura lontarkan membuatnya keheranan.
“Kenapa Mas nggak jawab? Mas akan tinggalin Haura?”
Fariz cepat-cepat mendekati ibu hamil itu yang tengah duduk selonjoran di kasur. “Aku nggak akan pernah ninggalin kamu sayang, sampai kapan pun akan tetap di samping kamu.”
“Bahkan di saat Haura seperti ini?” tanya Haura menatap seluruh badannya dengan mata. Fariz langsung mengerti tentang kekhawatiran Haura itu.
“Apa pun kondisinya, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kamu percayakan?” Fariz menggenggam kedua lengan Haura, menatap Haura dalam. Yang di tatap justru menitikkan air matanya
“Hey, kenapa nangis?” tanya Fariz lembut sembari membawa Haura ke dekapannya.
“Haura hanya takut, jika anak kita lahir tan-”
“Hustt.” Fariz menyela ucapan Haura barusan, lengannya mengelus kepala Haura yang tertutup jilbab.
“Aku sangat mencintaimu, Ra. Kata meninggalkan tak pernah terbesit di kepalaku. Putra kita akan terlahir dengan orang tua yang lengkap. Kamu nggak perlu khawatir lagi.”
Haura menyeka air matanya setelah Fariz melepaskan pelukannya. “Promise?” tanya Haura mengacungkan jari kelingkingnya. Lelaki itu terus tersenyum manis, lesung di pipi kanannya ikut terpampang.
“I promise.” Fariz menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Haura. Ibu hamil itu kini mengembangkan senyuman.
“Yuk sarapan dulu. Dan kamu pun harus minum susu sama vitamin.”