Bab 35: Ungkapan

354 29 19
                                        

“Terkadang, rasa sayang akan menarik kita ke dalam hal yang tidak seharusnya. Karena diri rela melakukan apa pun untuk orang yang di sayangi walau tahu itu salah. Akan tetapi, cobalah arahkan rasa sayang itu ke tempatnya. Agar suatu saat tak ada kalimat yang menyalah artikan rasa sayang.” — CDR

04 Mei 2010

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

04 Mei 2010.
Flashback On.

KARINA berjalan penuh semangat menuju satu kelas yang lumayan jauh dari kelasnya, bibirnya terus mengembangkan senyuman kala mengingat kenakalannya yang mencoba keluar di jam pelajaran. Tangan kanannya mengibas-ngibaskan secarik kertas yang sudah terpenuhi tinta hitam. Sementara tangan kirinya membawa gulungan kertas.

Kakinya berhenti, ia sedikit membungkukkan badannya karena kaca dari kelas itu terbuka. Secara perlahan ia melihat ke dalam, dan ya, matanya mendapati Fariz yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Kemudian netranya melirik ke arah gulungan kertas yang ia pegang. Setelah aba-aba, ia langsung melempar gulungan kertas itu dan tepat sasaran.

Fariz terlihat sedikit terkejut lalu mencari orang yang telah menimpuknya dengan kertas. Sementara Karina, mengkode Fariz dengan gestur kepalanya untuk segera keluar.

"Bu," panggil Fariz seraya mengangkat satu tangannya ke udara.

"Izin ke toilet," lanjutnya. Pengajar itu mengangguk, lalu Fariz beranjak berdiri dan berjalan keluar.

Di depan pintu lengannya langsung di tarik seseorang yang sudah ia ketahui. "Kamu tau kan sekarang jam pelajaran?" tanya Fariz. Sebelum di jawab, keduanya mengayunkan kaki beriringan.

"Ada sesuatu yang mau kuperlihatkan," ujar Karina.

"Apa?"

Karina menggeleng, "Kita harus keluar dulu dari sini, dan ke suatu tempat. Nanti aku ka-"

"Jangan mengada-ngada, Rin. Jam pulang masih lama, kalau kita ketahuan pas keluar gimana?"

"Pasti di hukum."

"Jadi buat apa, sekarang kamu ke kelas, dan aku juga," perintah Fariz. Namun Karina justru mencebik bibir kesal. Ia cemberut dan hanya diam.

Melihatnya, Fariz menghela nafas berat. "Sekali ini aja ya, jangan lagi," ucap Fariz kemudian.

Spontan Karina mengangguk antusias, matanya seakan berbinar mengeluarkan cahaya terang saking bahagianya.

"Kita nggak mungkin lewat gerbang."

"Maka dari itu kita manjat."

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang