Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
"Sebesar apa pun cobaan yang dialami, jangan berputus asa. Berhenti sejenak boleh, yang penting jangan berputus asa, percayalah pada Allah." — CDR
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LAMPU kembali menyala setelah di matikan secara sengaja untuk menyambut para anak-anak panti. Satu persatu anak-anak itu naik ke panggung, ada belasan anak, perempuan dan laki-laki. Tak lupa Hanum dan Andi, selaku pengurus panti asuhan naik juga.
"Para malaikat kecil," ujar MC itu seraya membungkukkan badannya.
"Baiklah, seperti konsep awal yang telah tersusun, yaitu konsep kebersamaan. Maka kami datangkan malaikat-malaikat kecil yang sangat menggemaskan ini," timpal MC wanita yang baru saja datang.
"Sebelum ke sesi selanjutnya, mari kita berbincang dengan Bapak dan Ibu sebagai orang tua bagi anak-anak ini. Kita akan belajar menjadikan diri lebih baik dari pengalaman Beliau dalam mengemban tanggung jawab yang sangat besar," ucap MC lelaki.
"Tapi-tapi, masih ada sebelumnya lagi nih. Karena sebelum kita mendengarkan pengalaman beliau, dan mengambil pelajarannya, kita akan berkenalan dulu dengan adik-adik yang sangat lucu-lucu ini."
"Namanya siapa, Dek?" tanya MC wanita.
"Nadia."
"Putri."
"Reza."
"Haykal."
"Firman."
Dan masih ada belasan nama lagi yang disebutkan. Setelah berkenalan dengan anak panti, MC itu kembali mendekati Andi dan Hanum.
"Apa yang membuat Bapak dan Ibu memantapkan hati untuk merawat dan menjadi orang tua bagi mereka?"
"Wah, panjang sekali ceritanya," ucap Andi
"Nggak apa-apa, kita sanggup dengerin, kan?" tanya MC pada tamu undangan.
"Awalnya, Allah belum mengaruniai istri saya keturunan, padahal usia pernikahan kita sudah menginjak belasan tahun. Dari situ Saya dan istri memutuskan untuk mengadopsi satu anak, dengan begitu semoga anak yang kita adopsi menjadi wasilah datangnya keturunan.
Namun selang beberapa tahun lagi, Allah tetap tidak mengaruniai kami. Sempat, saya dan istri putus asa karena hal itu, namun kami rutin menghadiri acara Majelis ataupun kajian-kajian islami lainnya. Dari sana banyak sekali motivasi dan semangat yang kita dapatkan, salah satunya agar Hidup tidak berputus asa, tetap berusaha dan yakin hanya pada Allah."
"Singkat cerita, empat anak yang kita adopsi sejak usianya masih bayi. Tiga tahun mendatang Allah kasih kita keturunan. Dari situ saya dan istri tentu sangat bahagia, penantian kita telah Allah kabulkan. Usia anak kami sekitar lima tahun waktu itu, Abang panggilannya. Dia mengidap penyakit berat. Allah ambil lagi anak saya ke dalam pangkuannya, dari situ saya berpikir, mungkin saja, Allah lebih sayang padanya, sehingga Abang di ambil kembali dari tangan kami." Sambung Hanum dengan kelopak mata mulai berkaca-kaca. MC wanita itu mengelus-elus punggung Hanum.