Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
"Terkadang, apa yang dilihat oleh mata belum tentu kebenaran." — CDR
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SEPERTI biasa, Haura mengerjakan rutinitas malamnya, memasak berbagai macam hidangan untuk di santap malam ini. Ia tuangkan sup ke mangkuk besar, lalu mengambil penutup mangkuknya. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk dengan perlahan. Mengapa rasanya tangan ini sangat lemah tak ada tenaga, jantungnya pun tak berhenti berdebar kencang, sedangkan pikirannya sedang meyakinkan untuk tidak percaya dengan apa yang Vian katakan di telepon.
Benar, yang Vian ucapkan di telepon cukup membuatnya terkejut, Vian membeberkan bahwa melihat Fariz dengan wanita lain makan berdua, menyuapi dan menggandeng tangan. Istri mana yang tak ke pikiran jika mendengar suaminya diperbincangkan seperti itu? Ia mencoba tidak mempercayai apa yang Vian ucapkan, selain tidak ada bukti, terkadang apa yang dilihat oleh mata belum tentu kebenaran. Haura pun tak ingin berburuk sangka.
Allah.. ia harap ini hanya kesalahan pahaman saja, Haura mencoba menetralkan pikirannya, bersender di kursi sembari menunggu jam delapan. Karena Fariz akan pulang di jam itu.
Di tunggunya sampai jam delapan, tak ada tanda-tanda Fariz akan datang. Ia melirik ponsel, siapa tahu Fariz mengabarinya. Tapi nihil, tak ada apa pun. Ponselnya masih meredup, tak memantulkan cahaya birunya.
Ia raih ponsel miliknya yang tergeletak di meja lalu masuk ke aplikasi WhatsApp untuk mengirimkan pesan singkat saja.
Sudah jam setengah sembilan. Mas akan pulang atau kerja lembur?
Setelah di kirim, hanya centang dua abu-abu yang tak kunjung membiru. Mungkin Fariz sangat sibuk di kantor dan lembur malam ini, sebisa mungkin ia harus terus berpikiran positif.
Haura beranjak berdiri untuk merapikan hidangan yang sudah selesai ia buat, lalu masuk ke kamar.
Matanya tidak bisa terpejam, perkataan Vian kembali terdengar. Ia menuturkan istighfar dalam hati. Membuang suara yang seakan sedang membisikkan sesuatu buruk di telinganya.
Haura hanya melihat langit-langit kamar dengan pencahayaan yang temaram.
Kring.. kring.. kring...
Haura spontan terbangun mendengar alarm itu. Tadi tanpa sengaja setelah Haura menatap langit-langit kamarnya ia tertidur, dan dibangunkan dengan alarm yang sengaja ia set tadi.
Di liriklah samping tempat tidurnya, tak ada sosok siapa pun. Suaminya belum pulang, padahal sudah jam dua belas malam, Haura meraih ponsel, siapa tahu Fariz membalas pesannya.
Harapannya tidak terkabul, tak ada apa pun disana, kondisi masih sama, dua centang abu-abu saja. Bagaimana mungkin ini? Lelaki itu ke mana, tumben sekali tidak mengabari apa pun. Mana mungkin Fariz meninggalkan ponsel begitu lama. Apa yang sedang terjadi disana, apa suaminya itu baik-baik saja?