Bab 05: Hari Menyebalkan

622 135 125
                                        

“Ingat ya, Bumi dan langit itu memang jauh, namun mereka saling melengkapi. Bayangkan, langit tanpa bumi dan bumi tanpa langit apa jadinya?" — CDR

SETELAH melewati banyak proses, dari melamar kerja, menunggu review HRD hingga interview

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SETELAH melewati banyak proses, dari melamar kerja, menunggu review HRD hingga interview. Hari ini Haura mulai masuk untuk kerja.

Walaupun memakai jilbab ia diharuskan berpenampilan formal. Haura mengenakan Flanel coat hitam putih dipadukan dengan dalaman kaos abu-abu dan long pants hitam. Ditambah jilbab dua warna abu hitam dan sepatu semi heels.

"Abang, hari ini anterin Haura ya. Kan Abang pergi kerja siang," ucap Haura setelah menandaskan sarapan paginya. Walaupun masuk kerja jam sembilan, Haura harus bersiap di pagi hari. Vian hanya mengangguk karena sedang menyeruput teh hangat nya.

"Fokus kerja, ya. Jangan sampai kamu melakukan hal yang buruk di hari pertama," timpal Ratih, ibunya.

"InsyaAllah, Bu. Doakan Haura, ya."

"Hayuk, Abang udah siap," ajak Vian seraya mengubah posisinya, lalu menyalami Ratih begitu pun dengan Haura.

Haura dan Vian, melesat pergi menunggangi motornya, embusan angin menjalar ke seluruh wajah dan tubuh. Kedinginan suasana pagi cukup membuatnya lupa akan ketegangan masuk kerja sejak malam.

"Ada apa, Bang?" tanya Haura karena tiba-tiba Vian berhenti.

"Kayanya mogok."

"Ish, kok bisa." kesalnya sembari turun dari motor. Ia berdiri di belakang menunggu Vian yang memperbaiki motornya.

"Akan lama apa enggak, Bang?" tanya Haura melirik Vian yang sedang khusyuk membenarkan motornya.

"Sebentar lagi."

Haura berdehem saja, ia merapikan pakaian nya itu, lalu merapikan jilbabnya juga. Ia mengeluarkan ponsel di tas untuk memberitahu Arum, namun sedetik kemudian mobil berwarna hitam melintas di hadapannya dengan kecepatan lumayan tinggi.

Jalanan sedikit berlubang yang menyebabkan gendangan air. Otomatis air itu muncrat ke pakaiannya membuat pakaian yang sudah Haura tata rapi itu kotor.

Spontan Haura berteriak. Namun, orang yang mengendarai mobil itu terus saja melaju tanpa berhenti.

Haura melihat sekilas wajah yang mengendarai mobil itu, walaupun terlihat samar karena kaca mobil yang sedikit gelap, namun Haura yakin itu adalah Bos-Nya.

"Ish!! Abang lihat Haura ih!" Haura mendengkus kesal, jika saja berani ia akan mengejar Bos-nya itu dan meminta solusi untuk ini, namun lagi-lagi Haura tahu, jika ada di hadapan Bos-nya, nyalinya langsung menciut bak balon yang ditusuk jarum.

Vian menoleh, "loh, kok bisa kotor gitu, kenapa?" tanya Vian terkejut baru menyadari adiknya yang terkena musibah ini.

"Tadi mobil itu yang buat baju Haura kotor." Haura menunjuk mobil yang sudah lumayan jauh namun masih terlihat oleh pandangan mata.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang