Bab 19: Cemburu?

502 40 60
                                        

"Materi tak akan bisa membeli segalanya, bahkan kebahagiaan di dunia ini pun tak akan terbeli oleh materi.” — CDR

SETELAH mengangkat tangan ke atas, seorang pelayan wanita langsung datang membawa lembaran kertas berisi menu hidangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SETELAH mengangkat tangan ke atas, seorang pelayan wanita langsung datang membawa lembaran kertas berisi menu hidangan. Kami mulai menunjuk-nunjuk gambar serta nama makanan yang tertera jelas di kertas. Setelah empat hidangan yang kami pesan, pelayan tadi melenggang pergi lagi.

"Kamu ya. Masih aja suka yang pedas." Alvaro membuka percakapan.

"Iya dong, kesukaan Haura banget."

"Awas aja kalau keselek lagi kaya dulu."

"Jangan di bahas, ih. Itu kebetulan aja."

"Ngeles aja bisanya."

"Emang gitu keadaannya kok, kamu aja yang lebay." Ada tawa yang tertahan di bibir ranumnya itu.

"Berani-beraninya, bilang aku lebay."

"Fakta bukan mitos," kelakar Haura.

"Loh, ngeyel."

"Biarin."

Sepersekian detik kemudian, tawa mulai pecah, percakapan unfaedah itu benar-benar menggelitik perut.

"Aww!"

Tiba-tiba saja Alvaro meraung kecil karena merasakan ada yang menendang tumitnya. Lalu ia melirik sebelah kiri—ada Vian disana—Begitu juga Haura, keduanya menatap Vian, tatapan lelaki itu cukup mengintimidasi. Haura langsung tahu apa maksudnya itu.

Dilirik lah lelaki lain, yang tak lain suaminya sendiri membuat ia tak enak hati. Raut wajahnya sangat datar, tak ada ekspresi yang menggambarkan baik-baik saja di sana. Justru lebih dominan tak suka.

Matanya membulat ketika Fariz mundur dari kursi yang ia duduki, hanya kata izin yang sangat simpel, tubuhnya langsung beranjak berdiri dan melenggang pergi.

"Saya pamit ke toilet."

Itu tadi, kata izin yang sangat simpel namun banyak teka-teki. Di lihat dari sikapnya, Haura jadi menangkap satu kata yang mendominasi sikap itu.

Cemburu!

Ya, enam huruf itu cocok dengan sikap suaminya sekarang.

Punggung Fariz sudah tak terlihat oleh mata, karena lelaki itu berbelok ke kiri. Namun aneh sekali, katanya izin ke toilet tapi arah yang Fariz tuju justru menuju rooftop. Sedangkan rooftop restoran yang ia kunjungi tak ada toilet.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang