Bab 02: Kabar Buruk

1K 159 92
                                        

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

(QS. Al- Baqarah: 286)

GADIS cantik yang memiliki iris mata hitam pekat itu masih tertunduk di samping batu nisan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

GADIS cantik yang memiliki iris mata hitam pekat itu masih tertunduk di samping batu nisan. Awan gelap serta air hujan yang terus mengguyur pemakaman cukup menggambarkan keterpurukan hatinya. Pakaian yang ia kenakan sudah basah, begitu pula dengan hijab yang setia membalut kepalanya. Air mata pun terus bercucuran bercampur sempurna dengan air hujan.

"Ayah, yang tenang di sana, ya. Kita akan selalu mendoakan ayah disini."

Gadis itu menyeka air mata kasar, mencoba untuk tidak menangisi ayahnya lagi. Karena itu akan memberatkan bagi yang meninggal dan yang di tinggalkan.

Sepasang tangan kekar membantu gadis itu untuk berdiri, netra nya menatap sang pemilik tangan.

"Ayo pulang, hujannya tambah deras," ucap seorang lelaki yang berumur selisih enam tahun lebih tua darinya menatap penuh kesedihan.

***

Sekitar jam setengah satu dini hari, Ratih—seorang wanita paruh baya—mendapatkan panggilan telepon dari seseorang yang tak di kenal. Si penelepon mengabarkan bahwa suaminya telah meninggal dunia di rumah sakit. Alasannya karena tertabrak mobil ketika menyeberang jalan. Ratih tentu memberi tahu Putra dan Putrinya tentang hal itu.

Putrinya bernama Haura Izzati Kamila. Anak bungsu dari dua bersaudara. Haura tipikal orang yang sangat pekerja keras walau usianya masih muda. Apalagi setelah di tinggal sang ayah, menuntut harus lebih hidup mandiri. Haura bekerja di salah satu restoran, pulang pergi ia hanya berjalan kaki karena jarak antara rumah dan restoran tidak terlalu jauh.

Terkadang, jika waktunya bersamaan, Haura akan pergi kerja bersama Vian Syahril Saputra—Saudara lelakinya.

"Bu, Vian berangkat kerja dulu, ya," pamitnya seraya mencium punggung lengan sang ibu.

"Hati-hati, Nak."

Ibu melempar senyuman menatap putra pertamanya.

"Abang kerja, kamu beresin rumah bantuin ibu." Lengan kokohnya mengelus puncak kepala Haura yang tertutup jilbab pashmina hitam.

"Pasti Bang."

Seperti apa yang di pesankan Vian, Haura membantu ibu untuk membersihkan seluruh sudut rumah. Ia membungkukkan sedikit badannya untuk menyapu bagian bawah sofa yang telah lama tak pindah posisi. Debu halus berserakan di sana.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang