Bab 33: Menunggangi Kuda

326 29 6
                                        

"Kepercayaan dan kebersamaan akan memperjelas kebahagiaan yang masih samar." — CDR

MINGGU yang cerah, sang Surya telah menyingsing lebih tinggi, pancaran sinar UVB telah menembus sempurna ke kulit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MINGGU yang cerah, sang Surya telah menyingsing lebih tinggi, pancaran sinar UVB telah menembus sempurna ke kulit. Namun kehangatan itu seakan hilang karena suasana hamparan hijau yang menyejukkan mata.

Yap! Perkebunan Teh. Salah satu tempat wisata di Jakarta. Sengaja, Fariz membawa Haura ke tempat ini untuk memenuhi keinginan Haura yang ingin pergi keluar. Selain itu, ia juga ingin membuat Haura kembali normal seperti semula. Padahal ia sama sekali tak mengerti dan tak tahu apa penyebabnya Haura bersikap demikian.

"Kamu suka tempat kaya gini?" tanya Fariz yang menggenggam lengan Haura sembari melangkah beriringan menyusuri hamparan kebun teh.

Haura mengangguk, "Suka, lumayan menyejukkan hati."

"Hati?" Fariz berhenti melangkah, iris matanya menatap sang istri.

"Em, maksudnya ... mata."

Ekspresi wajah lelaki itu kembali normal, ia mencoba tak memusingkan walaupun ucapan Haura sangat mengandung teka-teki.

"Kenapa Mas bawa Haura ke tempat seperti ini, mana naik angkot, tumben banget," tanyanya.

Ehm..

Fariz berdehem sebelum menjawab pertanyaan Haura.

"Aku sedang berusaha," jawabnya

"Berusaha untuk menghilangkan kebingungan?" tanya Haura.

Fariz menggeleng, " Berusaha untuk lebih baik dan membenahi sesuatu yang nyaris hilang dari genggaman." Lelaki itu tersenyum bersamaan dengan lesung di pipi kanannya ikut terpampang.

Haura diam tak menjawab, mencerna kalimat yang Fariz katakan barusan.

Keduanya kembali mengayunkan kaki, menuju suatu tempat yang mungkin menarik untuk di kunjungi.

Tak butuh waktu lama, mata kami di suguhkan dengan se-gerombolan kuda yang berjejer di lahan luas dengan pasir putih sebagai pijakan. Derap suara langkah kuda yang berirama pun ikut terdengar dari tempat terbuka ini.

Sangat banyak pelanggan yang sedang belajar mengendalikan kuda ataupun mencoba meluluhkan rintangan yang menghadang di sepanjang lintasan.

Haura menarik lengan Fariz. Karena lelaki itu terus saja maju lebih dalam memasuki kawasan berkuda.

"Kenapa berhenti, ayo," ajak Fariz.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang