Bab 25: Gal-on (Gagal Move On)

364 36 16
                                        

"Usaha yang sungguh-sungguh pasti akan berbuah manis, tak ada yang sia-sia.” — Gavin

LELAKI berperawakan kekar itu tengah menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

LELAKI berperawakan kekar itu tengah menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala. Tangannya mulai berkutat di laptop yang hampir memakan separuh waktunya, lalu tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran berkas besar berwarna-warni.

Tok! Tok!

"Masuk!" Fariz langsung mengizinkan si pengetuk pintu itu masuk, sedangkan dirinya masih fokus dengan lembaran-lembaran kertas tadi. Suara pintu terbuka ia dengar, kepalanya masih menunduk tak melihat ke arah pintu.

"Selamat siang, Pak." Nada suara dari orang itu membuat Fariz mendongak cepat.

"Ada perlu apa kamu kesini?" tanyanya mencoba tenang sebisa mungkin. ia kembali berkutat di tugas miliknya daripada menatap orang di hadapannya.

"Masih ingat dengan saya, Pak?" Wanita itu memakai blazer berwarna abu-abu, rok span mini dengan warna senada, nametag di arah saku kanannya, sedangkan kedua tangannya memeluk berkas-berkas yang dibawa.

"Jangan basa-basi, mau apa kamu ke ruangan saya? Kenapa pula sekretaris mengizinkan masuk, sedangkan saya nggak ada janji sama kamu," tukas Fariz lagi. Entahlah, rasanya masih sama, susah sekali untuk mengontrol emosi.

"Saya nggak perlu meminta Izin sekretaris dulu untuk masuk, karena tempat saya disini."

Fariz mendongak, alis tebalnya saling bertautan. "Maksudnya?"

"Saya asisten pribadi kamu mulai sekarang."

Ha? Apa Fariz tak salah dengar, mengapa bisa wanita ini mengakui dirinya sebagai asisten pribadi Fariz? Sedangkan, Fariz tak pernah mencari asisten.

"Saya gak butuh asisten pribadi. Jadi, silakan keluar dari ruangan saya sekarang."

"Kalau kamu nggak percaya, silakan periksa sendiri, di sana ada kesaksian dari orang yang sangat kamu percaya." Wanita itu menyodorkan berkas yang sedari tadi ia peluk. Fariz mengambilnya dan mengecek berkas itu.

Lembaran demi lembaran ia buka, dirinya semakin dibuat terkejut kala terus mengecek berkas itu lebih jauh. Kesaksian yang di maksud wanita itu ialah dari Ravi—papanya.

"Kalau masih belum percaya, lihatlah, saya telah menerima nametag dari perusahaan kamu, Pak. 'Mrs. Karina Nadila', Pak Ravi sendiri yang memberikannya," tambah wanita itu.

Fariz menutup berkasnya dengan keras, tak tahu lagi harus bagaimana jika sudah begini. Semuanya benar, Karina diperkerjakan atas rekomendasi Ravi, ia harus tahu apa alasan Ravi memosisikan Karina sebagai asisten pribadi.

"Keluar dari ruangan saya." Fariz menyodorkan berkas itu sembari menunjuk pintu keluar. Memang, nada bicara masih terlihat santai dan baik-baik saja. Tapi tidak dengan kondisi dalam.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang