Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
“Berushalah untuk meluangkan waktu untuk seseorang yang berarti di hidupmu. Sesibuk apa pun dirimu. Karena percayalah, satu kata tulus darimu akan menjadi semangat besar untuknya, be caring." — CDR
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DI jam setengah dua pagi, mobil hitam yang dikendarai tak berhenti membelah jalanan kota untuk sampai rumah, di perjalanan hanya ada keheningan saja, Fariz fokus menyetir, sedangkan Haura menyenderkan kepalanya di kursi, dengan tangan menyentuh paper bag yang Arum berikan tadi.
Jujur, kantuk berat telah menggerogoti tubuhnya, matanya berat sekali untuk terjaga lagi, namun ia tak bisa tertidur ketika di mobil.
"Dari siapa paper bag itu?" tanya Fariz, setelah tak sengaja melirik paper bag di pangkuan istrinya.
Haura mengubah posisinya menjadi duduk tegak. "Hadiah dari Mbak Arum," jawabnya.
"Hadiah apa?"
Haura mengangkat bahunya, "Entahlah, Mbak Arum melarang Haura untuk buka sekarang, katanya di rumah saja."
Fariz hanya ber-oh setelah mendengar jawaban dari Haura.
"Lalu Kenapa kamu nggak tidur?"
"Sebenarnya, Haura ngantuk, tapi nggak tau kenapa nggak bisa tidur."
"Paksakan saja, masih ada waktu beberapa menit untuk sampai ke rumah." Lelaki itu masih fokus menyetir.
"Nggak ah, nanti Mas nggak ada teman ngobrol."
Fariz menggelengkan kepalanya, "Benar juga."
Haura terkekeh mendengarnya. "Kata Mbak Arum, setelah hadiahnya di buka harus di pelajari dan di praktikan."
Lelaki itu menoleh ke arah Haura dengan sekilas, kedua alisnya saling bertautan sama seperti Haura tadi. "Praktik gimana maksudnya?"
"Aku nggak tau, Mas. Itu kata Mbak Arum tadi."
"Hm, mengherankan."
"Iya, makanya."
"Um, gimana kalau isinya tentang anu?" tanya Fariz ambigu.
Kali ini giliran Haura yang menautkan kedua alisnya, "Maksudnya, Anu?"
Terdengar tawaan yang begitu renyah dari arah lelaki itu, namun Haura masih tak mengerti apa yang lelaki itu maksud.
"Loh, kok malah ketawa sih."
"Nggak apa-apa, jangan di pikirin, nggak baik." tawanya masih terdengar dari bibir tipisnya.
"Hayoloh. Mas juga ngapain bilang kaya gitu kalau ternyata nggak baik."
"Udahlah, itu spontan saja terpikirkan. Jangan di perpanjang, entar otak kamu traveling."
Lagi!
Anu tambah otak traveling, benar-benar Haura tak paham dengan apa yang sedang diperbincangkan Fariz.
***
Sepertiga malam telah tiba, selepas pulang dari acara syukuran memang kantuk tak datang juga.
"Sudah jam tiga, daripada nggak bisa tidur, kita Salat tahajud saja," usul lelaki itu yang di beri anggukan oleh Haura.
Segera keduanya mengambil air wudu untuk menunaikan Salat Sunah dua rakaat itu. Walaupun belum tertidur tapi itu tidak masalah. Namun lebih Afdhol lagi jika tidur dahulu.
"Ah iya, Hadiah dari mbak Arum," ingat Haura setelah selesai melaksanakan Salat tahajud dan membaca doa-doa lainnya. Ia pun masih mengenakan mukena berwarna putih. Gadis itu menatap ke arah paper bag yang tergeletak di atar ranjang.
Sebenarnya, ia ingat kata Arum, setelah sampai di rumah, hadiah itu harus langsung di buka. Dan ya, kali ini ia akan membukanya, rasa penasarannya akan berakhir pagi ini juga.
Haura membuka paper bag itu, dan mengeluarkan isinya.
"Jadi ini yang harus di pelajari dan di praktikan," ujar Fariz sembari menatap hadiah dari Arum, lalu bergulir menatap Haura juga. Yang di tatapan justru menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah ayo," sambungnya.
Mata Haura langsung membulat sempurna, hampir kedua bola matanya copot.
"Ma-Mas?"
Terdengar tawa yang begitu renyah dari lelaki itu.
"Aku bercanda, sebentar lagi subuh, masa iya kan? Lagi pula, bukannya harus dipelajari dulu sebelum di praktikkan?" tanya Fariz masih dengan senyumannya.
Haura mengangguk pelan, pipinya sudah merona. Hadiah dari Arum tadi, tak lain adalah dua kitab atau buku yang familier bagi para pasangan suami istri. Kedua kitab itu dinamai Kitab Qurrot 'Uyun dan Fathul Izar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Noted Me:
Masukkan serta kritikkan sangat dibutuhkan Dm or komen, silakan Also, jangan lupa tekan Vote & Komen di bawah