Pada malam yang masih dihiasi air hujan, petir serta kilat Haura harus menerima kenyataan yang menusuk perasaan. Mengikhlaskan kepergian sang ayah sebab insiden mengerikan. Serta takdir yang membawanya ke titik pendewasaan.
Siapa sangka, setelah em...
“Skenario Allah lebih baik dari yang kita duga, walaupun datang secara tiba-tiba.” — CDR
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Hey!”
Suara berat lelaki yang di sebut suaminya itu membuyarkan aktivitas melamunnya, Haura menyeka ekor mata karena buliran bening keluar tanpa seizinnya.
“Salat Magrib?” tanya Fariz lagi.
Haura mengangguk, setelah di jawab Fariz melenggang untuk mengambil peralatan Salat.
Seharusnya, malam ini, menjadi malam yang spesial bagi Haura karena di imami sang suami. Namun justru menjadi malam yang sangat mengiris hati.
Haura berdiri untuk melakukan Salat Magrib. Ia berada satu shaf di belakang Fariz.
Setelah selesai, Fariz berbalik badan. Haura menatapnya, dan mencium punggung lengan Fariz. Ia berbalik lagi dan menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, begitu pula Haura.
Ya Allah, aku tidak mengerti dengan semua yang telah engkau hadapkan pada diriku. Takdir seperti apa yang kau berikan ini? Aku menjalin hubungan pernikahan dengan seseorang yang sama sekali tidak menginginkanku. Apa maksud dari semua ini? Jika benar lelaki itu tidak menginginkanku, mengapa harus rela menikahiku. Apa itu karena paksaan orang lain?
doa Haura dalam hati. Karena tak ada lagi pendengar yang baik selain bersama sang pencipta.
Maafkan segala dosa yang telah aku lakukan. Aku sadar, aku tidak berhak menilai buruk seseorang tanpa tahu apa sebenarnya. Tapi, kumohon, kuatkanlah aku, dan lapangkanlah hatiku untuk menerima semuanya. Aku berharap, di setiap perjalanan hidupku. Segala pertanyaan dan kebingunganku, satu-satu Allah tunjukkan. Aamiin.
Setelahnya, Haura membaca surah Al-fatihah lalu ia usapkan kedua telapak tangannya ke wajah.
“Haura,” panggil Fariz seraya membalikkan badannya menghadap Haura lagi. Ia sedikit terkejut kala menatap bola mata hitam pekat itu sedikit berkaca-kaca.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Fariz. Namun sebelumnya bukan hal itu yang ingin ia bicarakan.
“Oh iya, serius kamu nggak apa-apa kalau besok kita langsung pergi ke rumahku?”
“Aku harus ikut kemanapun Pak Fariz pergi. Karena sudah menjadi kewajiban seorang istri.”
Fariz sedikit tertegun, jawaban memang sangat padat dan tidak melenceng, tetapi mengapa rasanya gadis itu sangat berbeda, apa yang sudah terjadi padanya? Atau jangan-jangan ia membuat kesalahan yang melukai hatinya? Setelah di ingat-ingat, sepertinya Fariz tak berucap kasar.