Bab 11: Resepsi Pernikahan

547 79 70
                                        

"Tingkat tertinggi dalam mencintai ialah mengikhlaskan cintanya bahagia dengan orang lain." — CDR

HAURA mengikuti langkah Fariz menuju Ratih, Vian, Ravi dan Oliv untuk mendapatkan doa restu—sungkeman namanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

HAURA mengikuti langkah Fariz menuju Ratih, Vian, Ravi dan Oliv untuk mendapatkan doa restu—sungkeman namanya.

Haura mencium punggung lengan Ratih, lalu Ratih langsung memeluk Haura begitu emosional, dalam dekapan keduanya saling terisak tangis.

"Doa ibu akan selalu bersamamu, Nak. Jadilah istri yang baik, agar selalu di Ridhoi Allah," doa yang lolos dari bibir Ratih sembari melepaskan dekapannya.

"Nak Fariz, Ibu titipkan putri ibu denganmu. Jagalah dia, Nak. Bimbing dia dalam segala hal kebaikan, ibu mempercayai kamu untuk ibu serahkan tanggung jawab menjaganya sama kamu. Taburi putri bungsuku dengan banyak kasih sayang dan cinta karena Allah untuk nya, jangan pernah saling mendahului, tetaplah beriringan."

Hati Fariz tersentuh oleh ucapan sang mertua. Lalu ia mengusap lembut pipi Ratih sehingga tak ada lagi kubangan air yang memenuhi pipinya sejak tadi. "Fariz akan selalu ingat nasihat dan pesan ibu untukku, ibu nggak perlu khawatir, Fariz akan menjaga Haura dengan segenap hati Fariz. Akan selalu membuat Haura Bahagia dengan cara yang Fariz bisa. Fariz mau minta maaf dari sekarang, jika ada cara Fariz yang membahagiakan Haura justru melukai hatinya."

Mendengar itu sang mertua justru makin menjadi-jadi saja, Ratih memeluk menantu pertamanya itu dengan sangat erat.

"Berbahagialah, Nak. Kebahagiaan sudah ada di depan mata. Semoga pernikahanmu sakinah mawadah warahmah," bisik Ratih dengan suara bergetar karena menangis.

"Aamiin ya Allah."

Ratih melepaskan pelukannya.

"Abang." Haura langsung memeluk Vian, saudara kandungnya.

"Abang bahagia, akhirnya kamu resmi menikah, Ra. Jaga diri baik-baik ya, dan selalu turut apa kata suami, jangan bersikap ke kanak-kanakkan. Abang akan selalu ada untuk kamu, Ra. Semoga keluarga kamu Sakinah mawadah warahmah," ucap Vian seraya mengelus puncak kepala Haura yang tertutup jilbab putih.

Haura mengangguk, "Terima kasih sudah selalu jagain Haura, Bang. Terima kasih juga selalu ngertiin Haura. Maafin Haura kalau selalu buat Abang kesal, Haura sayang sama Abang."

"Abang juga sayang sama adek Abang yang nggak ada duanya ini. Sudah ya, jangan biarkan ada air mata di hari bahagiamu." Vian menyeka air mata adiknya itu lembut.

Hati Fariz lagi-lagi tersentuh, kali ini melihat Haura dan Vian begitu dekat. Akankah dirinya sanggup dan bisa menjadi sosok yang selalu Vian berikan pada Haura? Atau justru hati kecilnya yang terpaksa itu akan menghancurkan segalanya? Fariz tak tahu.

Yang jelas, takdirnya kini sudah berbeda, apa pun kata hati kecilnya, ia tak peduli. Besok dan seterusnya Fariz akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istrinya, memang tidak akan mudah, tapi akan berusaha, InsyaAllah.

Cinta & Rahasia [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang