"Hai, Ayah. Akhirnya kita bertemu."
Dunia Jimin yang tenang seketika porak-poranda sesaat seorang gadis kecil mendatangi dan mengaku sebagai putrinya. Memangnya sejak kapan dia menghamili wanita Ahn yang bahkan tidak dikenalnya?
Ditambah Jimin tidak...
Sementara yang diajaknya bicara—Ahn Ye Won—tidak langsung menjawab. Gadis kecil itu asyik mengalihkan pandangan ke jendela mobil, memperhatikan setiap mobil yang berlalu-lalang. Ada yang terlihat seperti berlomba-lomba ingin tiba di tujuan, dan ada yang lamban. Terkesan santai. Mengingatkannya pada sang ayah, Jimin.
"Tapi mungkin ayah tidak akan datang." Selang beberapa detik, Ye Won menjawab.
Jawaban itu rupanya menarik minat Yoojung. Wanita dengan ciri khas tahi lalat di bawah mata kirinya tersebut melihat sekilas, sebelum pandangannya beralih lagi ke jalan. "Kau kecewa?" tanyanya lebih lanjut.
Ye Won menggeleng. Suaranya lirih saat menjawab, "Tidak."
"Lalu kenapa?"
Terdengar suara embusan napas panjang. Kalau sudah begini, Ye Won persis ibunya bila sedang banyak masalah. Ye Won sendiri tidak tahu harus kecewa atau tidak. Satu hal yang dia yakini yaitu persoalan dewasa memang belum cocok ia tangani. Terlalu rumit untuk kapasitas otak dan umurnya yang terbilang belia.
Ada ayah dan Paman Minhyun yang tampan dan baik hati, dua pilihan yang sulit bila disandingkan. Bila Jimin unggul karena dia merupakan ayah biologis Ye Won, tapi di satu sisi Ye Won merasa ayahnya kurang peka. Terlalu percaya diri, angkuh, dingin, dan tidak pandai berbasa-basi. Lebih mudah menemukan kekurangannya ketimbang nilai lebih.
Kemudian Kang Minhyun, pria yang Ye Won anggap lebih peka dan hangat. Ye Won senang bersamanya. Dia secara terang-terangan menunjukkan keinginan untuk kembali dekat pada sang ibu. Namun, memikirkan pria itu di masa lalu pernah membuat ibunya terluka, Ye Won khawatir ibunya akan terluka untuk kedua kali.
Seharusnya Ye Won tidak perlu pusing. Bukankah orang dewasa lebih tahu keputusan yan terbaik? Bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk Ye Won. Namun, tetap saja. Ye Won penasaran dengan ibunya. Tentang perasaan sang ibu yang sesungguhnya.
Beda yang dirasakan Ye Won, beda pula yang dialami Sohyun. Duduk bersama Seulgi sungguh tidak nyaman. Udara kafe yang seharusnya hangat, terasa dingin setiap kali pandangannya bersirobok dengan Seulgi.
"Kau menyukainya? Mantan suamiku?"
Layaknya seorang penuntut dengan ia sebagai tersangka, duduk saling berhadapan kian membuat Sohyun terpojok. Ditambah wajah Seulgi terpasang datar, meski barusan mengajukan pertanyaan sensitif.
Diinterogasi ... seperti itu kelihatannya.
Sohyun menyesap jus pesanannya. Ada beberapa detik ia terdiam, sebelum akhirnya wanita berambut tanggung tersebut berkata sambil menyematkan beberapa anak rambut ke belakang telinganya.