"Hai, Ayah. Akhirnya kita bertemu."
Dunia Jimin yang tenang seketika porak-poranda sesaat seorang gadis kecil mendatangi dan mengaku sebagai putrinya. Memangnya sejak kapan dia menghamili wanita Ahn yang bahkan tidak dikenalnya?
Ditambah Jimin tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yang tadi itu apa?"
Jimin terus berderap menuju dapur. Bersikap santai dan abai pada pertanyaan Seulgi yang nyatanya tetap mengikutinya hingga ke apartemen.
"Bukankah kau membenci anak kecil?" Masih Seulgi yang berbicara, sementara Jimin menenggak air putih dingin yang beberapa saat diambilnya dari kulkas.
Lalu, pria Han itu kembali bergerak menuju ruang tamu. Sembari menghela napas, Jimin menyadarkan punggung belakangnya di salah satu sofa yang langsung berhadapan ke televisi. Sesekali ia memutar leher dan memukul pelan bahunya yang agak lelah.
"Han Jimin!"
Ia baru menatap Seulgi setelah nada suara wanita Kim itu meninggi. Itu pun tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik seraya dia mengamati ekspresi Seulgi yang cenderung marah.
"Aku tidak bilang membenci anak kecil. Aku cuma bilang tidak ingin punya anak." Jimin akhirnya menjawab.
Sayang, perkataan itu tidak memuaskan Seulgi yang mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Wanita bermata tajam itu bilang, "Bagiku itu sama saja. Kalau begitu, kenapa tidak kita coba sekali lagi. Bayi tabung, kau mau, 'kan?" Nada suara Seulgi mulai menurun. Hingga di akhir kalimat ia terdengar membujuk Jimin yang malah menyalakan televisi.
Sepertinya pikiran Jimin bulat. Kedatangan Seulgi, bahasan ini, sejujurnya sejak awal dia sudah bisa menebaknya. Sayang, pendirian itu belum berubah. Dia masih tetap tidak ingin memiliki anak. Dia lelah dengan tuntutan perihal keturunan ini. Muak sekali.
"Seulgi-ya ...."
Seulgi menaikkan alisnya. Beradu pandang dengan Jimin yang menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertaut.
"Ayo, kita hentikan ini semua." Jimin meneruskan. Sangat dingin dan singkat. Ia terlihat baik-baik. Tidak merasa bersalah, walah tahu Seulgi tidak setegar Jimin.
Berbeda dengan Seulgi yang mengepalkan tangan. Ia juga tidak ingin terlihat menyedihkan. Apalagi harus bersusah payah membujuk Jimin yang dingin. Kendati begitu, apa salah bila ia ingin mempertahankan pernikahannya? Anak ... entah sejak kapan itu jadi momok yang mengerikan.
"Aku akan berhenti setelah kau setuju melakukan bayi tabung." Seulgi bersikeras.
Jimin mendesah, lalu memijit pelipisnya. "Kau tahu, Seulgi. Ada anak atau tidak, akhirnya akan tetap sama. Aku dan kau, kita tidak akan pernah bahagia."
Seulgi masih terdiam sesaat Jimin mengambil jeda. Pria Han itu melanjutkan, "Apa kau akan terus begini? Kau hanya menyakiti dirimu. Bila cara ini gagal, bukankah membuatmu lebih terpuruk? Ayolah, aku bukan ibuku. Bagiku, anak bukan segala-galanya."
Seulgi memalingkan wajah. Sial! Matanya berkaca-kaca. Perkataan Jimin menusuknya. Sakit sekali. Lucunya, Seulgi tidak membantah sedikit pun. Seolah ada bagian kata hatinya yang membenarkan semua perkataan itu.