"Hai, Ayah. Akhirnya kita bertemu."
Dunia Jimin yang tenang seketika porak-poranda sesaat seorang gadis kecil mendatangi dan mengaku sebagai putrinya. Memangnya sejak kapan dia menghamili wanita Ahn yang bahkan tidak dikenalnya?
Ditambah Jimin tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terima kasih."
Alis Jimin meninggi. Seolah dunia sedang berputar balik; malam layaknya pagi, dan sebaliknya. Ia terkejut mendapati Sohyun, tetangga yang dicap sebagai si bencana, nyatanya bisa berterima kasih. Padahal dirinya tidak mengharapkan kalimat bakal terucap usai melakukan drama picisan beberapa saat tadi.
"Sekali lagi!" ujar Jimin menyebalkan.
"Yak!" Sohyun tetaplah Sohyun. Satu kalimat manis, tidak lantas menggambarkan dirinya berubah sama manisnya. Sama sekali tidak. Sikapnya kontan kembali bar-bar usai mendengar permintaan Jimin.
Namun, lain halnya dengan Jimin yang terkekeh. Pandangan langka yang membuat Sohyun dan Ye Won saling berpandangan—heran.
"Kau bisa tersenyum semanis ini rupanya," ledek Sohyun yang kembali memaksa Jimin berubah dingin.
"Saat tersenyum, kau membuatku teringat pada ...." Sohyun mengetuk jemarinya di dagu, tampak berpikir. Hingga beberapa detik kemudian jarinya menjentik. "Ah, kau mirip dengan ... Ye Won!" Sohyun lantas memandang sang putri yang masih berdiri di sisinya.
"Tidak!"
"Tidak!"
Alis Sohyun meninggi. Agak kaget karena putrinya dan Jimin menjawab serentak. Sama pula.
"Wow, kalian sangat mirip," ejeknya lagi.
Jimin memalingkan wajahnya. Begitu juga Ye Won yang memanyunkan bibir, tidak sudi dikatakan mirip dengan pria yang sempat dianggapnya 'ayah."
"Hem, sebagai permintaan terima kasihku, apa setelah ini kau punya waktu?"
Jimin kembali memandang Sohyun yang untuk pertama kalinya terlihat 'normal'. Meski agak ragu, tapi Jimin menggeleng.
Sohyun tersenyum lebar. Awalnya ia hendak merangkul Jimin, tapi tiba-tiba ucapan Yoojung melintas. Perkataan tentang pria itu sudah menikah, membuat Sohyun kembali menarik tangannya.
"Aku traktir makan. Mau, kan?"
Ye Won meneleng dengan dahi mengernyit. Ibunya ini kenapa? Tidak salah makan, kan?
***
"Dia mantan suamiku!"
Jimin kontan terbatuk-batuk begitu mendengar ucapan Sohyun. Biasanya kebanyakan orang akan menganggap topik perceraian adalah hal yang sensitif. Tidak jarang mereka enggan membahas hal tersebut, terlebih di depan orang asing. Namun, wanita yang duduk di depannya ini membicarakan hal sensitif itu semudah membalikkan telapak tangan. Tidak terlihat sedih atau ragu. Sangat mudah membuka masalah pribadi di depan Jimin.
Sohyun mengikik melihat reaksi Jimin. Lantas dia memberikan segelas air yang sontak ditegak habis.
"Kalau begitu kenapa tadi Ye Won memanggilku ayah? Apa pria tadi—"