9 - Denial, Soobin ver.

106 13 1
                                        

Ngapain gue pake lari, sih? Bego.
Iya juga, ya. Kayaknya panik gue beneran, deh. Tapi 'kan ini Anna, ngapain gue panik?
Anjir, iya. 'Kan kalo dia kenapa-napa, bisa gak turun dana buat Festival.
Bisa-bisanya. Ya kali, gue khawatir beneran.
Engga, engga. 

Soobin terkesiap dari lamunannya begitu ada potongan kulit jeruk menghantam kepalanya.

Hyunjin menatapnya. "Kesambet lo entar. Bengong mulu. Sekre, nih. Jangan kosong itu otak."

Soobin melempar balik Hyunjin dengan jeruk miliknya. "Buat lo aja."
"Hari ini Ayah pulang?" tanya Soobin pada Anna yang tengah meneguk minum di sampingnya.

"Pulang," jawab Anna.
"Ada Bunda, kok." 

"Ya udah. Ayo kalo udah. Saya anter. Sekalian les."
Soobin mengambil piring Anna, menumpuknya dengan piring miliknya, lalu berdiri meletakkannya di wastafel.

Hyunjin menyodorkan piringnya. "Sekalian."

"Punya kaki, 'kan?" balas Soobin.

"Ih, anjing," gerutu Hyunjin, kemudian berdiri.

Namun Ryujin yang sudah selesai makan, segera menyahut piring Hyunjin, berkata, "Sekalian aja, Bang."

"Tengkyu, Jin."

"Ryujin ikut gue sama Kak Soobin aja," ajak Anna.
Ia menoleh pada Soobin. "Boleh, 'kan?"

Soobin langsung mengangguk.

"Ryujin sama gue aja."
Hyunjin menjawab begitu Ryujin membuka mulut.
"Ryujin, Changbin, sama Yeji ada rapat sekretaris gak, sih?" tanyanya.

"Oh, iya," sahut Ryujin sambil mengangguk.
"Di tempatnya Teh Yeji."

"Ya udah. Ati-ati lo, Jin, bawa anak orang."
Soobin menepuk pundak Hyunjin.
"Jangan disuruh bayarin bensin."

"Lo bisa gak sih sekali-sekali menaikkan harga diri gue?" balas Hyunjin dengan tawa kecil sambil menabok Soobin.

"Keluar bareng aja."

Soobin, Hyunjin, Ryujin, dan Anna keluar dari sekre. Ruang BEM sudah tak ada orang. Jam tiga sore, mungkin kebanyakan masih ada yang kelas sore, atau sudah pulang. Kebetulan hari ini tidak ada forum penting juga, sih.

Mereka mengobrol menyusuri gedung utama, menuju ke parkiran mobil. Soobin bisa merasakan Anna berusaha agar tidak terlalu canggung mengimbangi obrolan itu. Anna sesekali menggenggam tepi tas selempang Soobin dan menunduk, jika sekiranya ia tidak relevan untuk menanggapi kalimat Hyunjin, Ryujin, atau dirinya.

"Tapi timeline yang Soobin revisi gila, sih. Jadinya kita habis UTS udah gak terlalu repot. Biar kata sekarang kayak setan, harus ngebut sana ngebut sini," kata Hyunjin, kira-kira begitulah pertengahan obrolannya.

Soobin tahu Anna menggenggam ujung tasnya lagi. Ia mengambil tangan Anna, dan memasukkannya ke dalam saku almet. Namun Soobin tetap menanggapi omongan Hyunjin, tanpa menoleh pada Anna.

Anna, Soobin, Hyunjin, dan Ryujin. Begitulah susunan berjalannya.

"Berarti habis UTS bisa ikut Prokernya Pencinta Alam dong, ya? Yang kemah seminggu itu? Eh, semester ini ada, 'kan?" tanya Ryujin.

"Bisa, bisa." Hyunjin mengangguk pasti.
"Gue ikut itu entar. Lo juga 'kan, Bin?"

"Skip, males."
Soobin menggeleng yakin.

"Libur dua minggu, jamuran lo kalo di Jakarta doang."

"Gue mau hibernasi."

"Soobin bukan sih itu? Eh, nebeng, dong!"

Klandestin | Choi SoobinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang