"Katanya Anna besok berangkat camping? Kok belum tidur?"
Anna tak bergeming meski ibunya masuk memasuki kamarnya tanpa mengetuk. Anna tetap pada sandarannya pada kaca jendela, menatap ke arah jalan dan gedung dan berwarna-warni memancarkan lampu-lampu kota yang berkilau. Ia meniupkan napasnya ke kaca yang tahan embun itu. Jakarta tengah malam.
Tahun keenambelasnya di Jakarta, empat per lima kehidupannya.
Sepertinya ibunya kini sedang merapikan koper yang tadi belum sempat Anna resleating, atau tengah merapikan isi tas kecil Anna, mungkin juga merapikan meja belajar Anna.
"Dingin, Anna, kalo berdiri di situ."
Anna mengangguk. Tetap pada tempatnya, menyandarkan kepala ke kaca jendela.
"Anna?" panggil ibunya sekali lagi, kali ini mendekap Anna dari belakang.
"Ada apa lagi, Na? Cerita sama Bunda."
Anna menggeleng, membiarkan airmatanya jatuh tanpa ibunya lihat.
"Capek, Na, kalo dipendem sendiri."
"Gapapa, Bun. Cuma lagi pengen nangis aja."
Jawaban tegas Anna tidak sinkron dengan tetes airmatanya yang menderas.
"Sini, Na."
Ibunya memutar tubuh Anna yang agak lebih tinggi darinya, membiarkan putri semata wayangnya menangis dalam pelukannya.
"Ya udah, nangis dulu. Ceritanya nanti-nanti aja."
Ibu Anna memberinya waktu sekitar lima menit untuk diam di pundaknya, hingga akhirnya ibunya mengangkat kepala Anna dan mengusap wajah basah anaknya.
"Soobin, kah?"
Anna memutar matanya, tertawa renyah.
"Aku? Nangisin cowok?"
Senyum ibunya ikut terukir seiring senyum Anna timbul.
"Namanya disebut aja kamu senyum, Na."
"Aku gak akan nangisin dia."
Anna tertawa percaya diri, dan mengusaikan airmatanya.
"Terus? Tugas kampus?" tanya ibunya lagi, menyisir pelan rambut Anna dengan jari-jarinya.
"Engga, kok. Gapapa, aku cuma pengen nangis aja," terang Anna lagi, mengucapkannya yakin-yakin.
Anna bisa melihat, ibunya begitu memaksakan diri untuk tetap tersenyum, saat ia berkata, "Kamu kangen temenmu ya, Na?"
Dan Anna mendengus dalam senyumnya, memutar matanya.
"Buat apa kangenin orang yang udah ninggalin aku?"
Entah mengapa, ibunya kembali memeluk Anna erat-erat. Padahal airmata Anna sudah mengering tuntas.
"Na, maafin Bunda dulu, Na... Bunda nyesel, Na."
"Engga, Bun. Anna gak pernah salahin Bunda. Ini bukan salah Bunda."
Bundanya menggeleng lemah di pundak Anna.
"Bunda tau kamu masih sedih, Na."
"Dia yang salah, Bun. Dia yang egois."
"Anna..."
Ibu Anna menangkup wajah Anna, menatapnya lekat-lekat.
"Kamu gak perlu pura-pura keras di depan Bunda. Bunda tau kamu, Anna."
Anna mengalihkan pandangannya dari ibunya, meski wajahnya berhadapan langsung.
"Anna bisa jadi diri Anna sendiri kalo sama Bunda. Anna bisa percaya sama Bunda."
Percaya.
"Anna selalu percaya sama Bunda," ujar Anna, dengan senyum tipisnya, yang segera dibalas dengan senyum yang berkali lipat lebih hangat oleh ibunya.
"Anna pergi dari temen Anna, dan dia pergi dari dunia ini. Karena Anna percaya Bunda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Klandestin | Choi Soobin
Fanfictionklan·des·tin adv secara rahasia; secara gelap; secara diam-diam = "Saya Choi Soobin, mulai hari ini jadi tutor kamu---" "Cepet selesaiin les ini dan kita balik ke kesibukan masing-masing." "... Kesibukan saya ya kamu." "Dan gak usah sok formal." sta...
