54 - Judgement

114 11 8
                                        

Medan perang yang setiap orang lewati tidak akan pernah sama. Walaupun nama peperangan yang mereka taklukan sama, tetap bagaimana cara menjalankan tidak akan pernah sama persis. Belum tentu pada perang pertumpahan darah, segala yang dilaluinya harus banyak mengorbankan darah. Begitu pula pada perang dingin, belum tentu tidak membuang darah sama sekali. Serta bagaimana peran tiap tentara sesuai bagian turun medannya. Pemanah dan petarung jarak dekat tidak akan mendapat tugas serupa. Kembali lagi, semua sesuai porsi masing-masing.

Karenanya jangan pernah sembarangan menilai orang hanya dalam sekali pandang, apa orang itu baik atau jahat. Musuhmu saat perang adalah pahlawan bagi negeri mereka.

Kita tidak pernah tahu perang seperti apa yang tiap orang sudah taklukan.

Selalu ada cerita di balik seperti apa manusia yang kini terbentuk. Selalu ada alasan di balik setiap jalan hidup yang manusia pilih. Tak akan pernah kita jalani semua latar di balik keputusan orang lain tentang kehidupannya.

Fenomena mengenal makhluk bernama Anna Kim membuat Jisung berpikir ribuan kali untuk menetapkan label baik dan jahat kepada orang lain.

Menikmati hembusan angin bertiup di tingkat teratas gedung Platinum Forest yang beratap teduh terbuka, Jisung duduk menyila di belakang huruf-huruf sebesar dirinya yang menuliskan nama bangunan ini di puncak apartemen. Kalau ia bisa terbang, mungkin Jisung sudah melompat sejak tadi dari ketinggian yang sedikit lagi bisa menyentuh awan ini.

Ah, iya... Jisung harus minta ganti rugi atas rokok elektroniknya yang jatuh entah ke mana, terjun bebas dari tempat ini mengikuti tarikan gravitasi.

Kepada gadis yang berdiri di hadapannya, yang bisa nekat mendorong Jisung jatuh kapan saja.

Han Jisung tidak pernah keberatan untuk mati. Hanya saja, Soobin mungkin akan menariknya paksa kembali ke bumi dari alam baka kalau Jisung mati hari ini, di saat semua perkara dunia mereka belum selesai.

Kang Taehyun sialan itu masih memegang harga diri lamanya yang siap kapan saja merusak masa depannya.

Salah.

Ya, dulu yang mereka lakukan memanglah sebuah kesalahan.

Jangankan Jisung.

Sebersih-bersihnya manusia, mereka pasti pernah berbuat kesalahan, tanpa sengaja memilih jalan dan pilihan yang salah. Dan itu bukan berarti mereka adalah orang yang buruk mutlak sampai akhir hayatnya. Semua bisa diperbaiki, semua bisa diubah menjadi hal yang lebih baik. Jisung percaya.

Salah adalah sifat dasar manusia. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan manusialah sumber segala kesalahan yang ada di muka bumi ini.

Mereka berbuat kesalahan karena mereka adalah manusia.

Kita adalah manusia.

Masih manusia.

Toh, sekarang ia berusaha memperbaiki semua hal yang dulu pernah dirusaknya. Mencoba bergaul dengan normal bersama orang baik lain, sebisa mungkin tidak menyakiti orang yang tidak memiliki salah kepadanya, dan selalu menebarkan kehangatan lewat senyum yang bisa ia sebar.

Tersenyum adalah satu-satunya hal yang Jisung bisa berikan kepada semua manusia sebagai bingkisan manis karena telah berjumpa dengannya. Tak peduli manusia itu mengesalkan atau menyenangkan. Jisung akan memberi senyum yang sama.

Manusia melelahkan.

Mungkin itu mengapa Choi Soobin dan Hwang Hyunjin lebih tertarik dengan setan.

"Lo gak takut ketauan Taehyun?" tanya Jisung, mendongak menatap Chaeryeong.

Mata Chaeryeong menatap lurus pada Jisung, entah apa yang ingin dikatakannya. Satu hal yang Jisung pahami dan pastikan, ucapan Chaeryeong petang ini akan menjadi kesulitan yang makin mengurangi keberhasilan misi Rahasia Negara tentang Anna.

Klandestin | Choi SoobinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang