28 - Enam Jam | Tiga Jam Pertama

122 11 0
                                        

Soobin membaca baik-baik rangkaian acara selama di bis yang sudah San, atau mungkin lebih tepatnya panitia camping, susun begitu dia kembali naik setelah selesai dengan pelepasan formalitas yang diinginkan dosen merepotkan tadi. Soobin menyandarkan diri pada dashboard lebar bis, sambil memijit kepalanya, menautkan alis bingung, pada kertas di tangannya. Begitu pula wajah San yang lesu dan pias.

"Gimana ya, Bin?"

"Ya gimana, anjir? Gak lo liat tuh pada tidur di bis? Berangkat aja belom ini," jawab Soobin seadanya.
"Bis lain sama? Pada tidur semua?"

San mengangguk, mengangkat walkie-talkie-nya.
"Gue udah tanya. Sama. Bahkan yang di tronton juga."

"Ya udah, ini lo padetin ke acara pas di sana aja. Pas baru sampe."

"Terus di bis ngapain?"

"Ya, tidur. Liat tuh. Udah pada ke alam mimpi semua."

"Ya udah deh, Bin..."

Soobin melebarkan senyumnya, menepuk pundak San.
"Nanti urusan hiburan, lo panggil aja Jisung sama Haje. Oke?"

San mengangguk pasrah, menyandarkan kepalanya pada pundak Soobin.

"Dah, ah."

Bis mulai berjalan, berangkat.

Soobin kembali menuju tempat duduknya. Ia menyempatkan diri untuk memotret Changbin dan Jisung yang pulas tertidur. Melihat Anna yang juga memejamkan matanya, Soobin menunda untuk duduk, namun segera berjalan ke belakang. Soobin mencolek salah satu panitia yang masih terbangun, menyuruhnya untuk menyelimuti mahasiswa-mahasiswi yang tertidur namun belum tertutup selimut.

"Kalo selimutnya kurang, bilang sama bapak bisnya aja ya."

Panitia tingkat dua itu mengangguk patuh.

Tentu Soobin menyelimuti Anna, sebelum ia duduk bersandar dengan tenang di kursinya.

Aduh akhirnya, anjir...

Soobin merendahkan duduknya, serta meluruskan kakinya hingga jauh ke kolong kursi Changbin. Saat Soobin bisa merasakan sepatu Changbin di ujung kakinya, ia menarik cepat kakinya, mengangkat lututnya agar kakinya tak terjulur terlalu jauh. Ia mengambil dengan hati-hati jatah Starbucks Kabem yang ia pesan dan berikan untuk Anna. Setelah meminumnya untuk sekadar membasahi bibir dan tenggorokkan, ia meletakkan kembali minuman yang tak begitu cocok dengan lidahnya itu. Secepat ia mencoba untuk mengosongkan kepalanya untuk tidur, secepat itu juga sekelibat rencana untuk sesampainya mereka di tempat camping bercabang di otaknya.

.... terus kalo bener dipadetin, berarti harus motong durasi buat...

"Kak? Gak ngantuk?"

Suara kantuk Anna menyelesaikan pikiran kusut Soobin.

Soobin menoleh pada Anna, tersenyum pada wajah dingin itu.
"Kamu kalo ngantuk tidur aja, Na."

Anna mengangkat kepalanya, meluruskan tidurnya dengan duduk tegap.

Soobin melirik Anna dengan ujung matanya. Anna menghembuskan napasnya dengan lembut dan tenang. Senyum Soobin agak terangkat melihat Anna yang tampak damai dan pendiam.

Seplastik tisu kecil menghantam kepala Soobin tanpa peringatan.

Kepala Seungmin muncul dari atas kepala Soobin.

"Apa sih, anjing?" geram Soobin, dalam bisikan.

"Bucin banget, anjir."

"Cewek gue. Bucinin cewek orang, baru salah."

Klandestin | Choi SoobinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang