"Brengsek kamu, Ki!"
Begitu Kiandra membuka pintu kamar kostnya, dengan penuh emosi aku langsung memakinya seperti kesetanan.
Gadis itu malah salah fokus dan menatapku seperti tidak percaya atas kehadiranku. "D-Dara.... Kamu ke sini...." walau sempat terkejut, Kiki langsung tersenyum lebar dan hendak memelukku.
"Jangan sentuh aku!" kudorong bahunya dengan kasar sambil berjalan kedalam kamarnya yang tidak berubah sejak terakhir kali aku mendatanginya.
"Kamu kok gini sih sekarang, Ra? Sakit tau." sahutnya merajuk sambil mengusap bahunya yang kesakitan.
"Ngapain kamu telepon-telepon aku, hah?!" teriakku agak kencang.
Kiki kaget dan refleks menutup pintu kamarnya. Dia pasti tidak mau menimbulkan keributan yang bisa memancing kecurigaan teman-teman satu kostnya.
Sementara aku sudah tidak peduli dengan apapun lagi, yang kurasa hanya emosi yang memuncak hingga ke ubun-ubun kepalaku.
"Kenapa kamu banyak ngomong sama Navyn di telepon itu? Kenapa kamu ngejek dia?? Kenapa kamu ngerendahin dia kayak gitu? JAWAB KENAPA?!"
"Emm, Ra.... Aku bisa jelasin, kita bisa ngomong baik-baik." pintanya dengan suara yang sangat pelan.
"Kalau aku udah sampe sini, artinya ini ga bisa diomongin baik-baik lagi, Kiandra. Kamu udah sangat keterlaluan!!"
"Iya Adara, iya. Aku tau aku kelewatan, aku minta maaf...." dia menatapku dengan rasa bersalah.
"Jangan tunjukin wajah fake itu lagi. Aku udah muak." kutunjuk wajahnya dengan amarah yang makin melonjak.
"Ra, ga gini caranya, Ra...."
"Dan kamu. Ngapain kamu dateng kerumah orangtua aku? Ngapain kamu bawain macem-macem buat keluargaku tanpa sepengetahuan aku, kenapa Kiandra?!!!"
"Karena kamu ga akan bolehin kalau aku ijin dulu, iya kan?"
"Iya lah. Ngapain coba kamu kesana? Urusan apa?? Ga usah macem-macem!"
"Aku cuma mampir. Kebetulan aku pas ngelewatin daerah rumah kamu dan sengaja mampir sambil bawain makanan buat keluarga kamu, emang salah?"
"Pikir sendiri pakai otak kamu yang cerdas itu!"
"Biasanya dulu juga aku kayak gitu, kenapa sekarang kamu marah-marah, sih."
"Karena sekarang kamu bukan siapa-siapa aku lagi, ngerti?!" bentakku kesal.
Kiandra terdiam, wajahnya terlihat pucat dan matanya menunjukkan kesedihan yang dalam. Perlahan dia mundur dan duduk di sofa dengan lemas.
"Iya, aku bukan siapa-siapa lagi. Sejak anak kecil itu rebut kamu dari aku, semuanya berubah."
"Ga ada yang merebut aku dari siapapun, ga usah ngaco."
"Harus berapa kali aku bilang? Aku ga akan biarin kamu dimiliki oleh siapapun, Ra. Biasanya juga kamu cuma naksir-naksir biasa di belakang aku, biasanya juga ga lama kamu balik lagi ke aku. Tapi kenapa kamu perlakukan dia begitu spesialnya sampai-sampai kamu rela buang aku??"
"Kamu itu daritadi ngomong bener-bener ga digunain ya otaknya? Kita udah lama putus, Kiandra. UDAH LAMA PU-TUS!"
"Kapan aku menyetujuinya?? Dari awal aku udah bilang ga mau, kamu yang maksa, kan?"
"Kamu udah beneran sinting, Ki."
"Aku ga pernah ingin pisah sama kamu, ga akan pernah. Kalaupun dulu aku iyain keputusan kamu, ya karena saat itu kamu lagi emosi. Dan lagipula aku pikir ga lama lagi kamu balik ke aku dengan sendirinya. Tapi kenapa sama dia kamu jadi serius?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
ADARA
RomanceApa yang akan Adara lakukan untuk menemukan cinta yang dia inginkan? Sementara dirinya sendiri tidak bisa menentukan sikap. Siapa yang akhirnya dia pilih? GxG XOXO ❤️
