Dara membuka pintu kamarnya perlahan, dia berdiri cukup lama di situ. Berbagai macam pikiran terus berputar di kepalanya.
Tatapannya kosong, pikirannya berkecamuk, dan dadanya terasa sesak.
Dengan lunglai dia melangkah masuk dan mengunci pintu kamarnya dua kali, lalu berjalan menuju sofa di sudut kamar yang menghadap ke arah taman dengan rumput hijau dan beberapa tanaman hias di belakang rumahnya.
Diletakkannya tas dan beberapa file di atas sofa dengan lemah, lalu dia duduk dekat jendela kaca dengan ukuran yang besar.
Dipandanginya langit yang sudah gelap di luar sana, hanya ada lampu taman yang menyala di sudut halaman.
Dara mendesah panjang, sama sekali tidak bergairah. Semangatnya hilang entah kemana.
Matanya masih terus menatap lurus ke depan, menatap dedaunan hijau dari balik jendela.
Biasanya tanaman-tanaman itu bisa menenangkannya di saat lelah setelah seharian bekerja, tapi tidak untuk saat ini. Pikirannya dihantui keresahan dan kegelisahan.
Dengan lemas dia bersandar di sofa, menutup matanya dan sedikit merebahkan diri.
Ugh...
Dia mendesah lagi untuk kesekian kalinya.
Ada rasa perih yang teramat sangat di pipi kanannya, refleks Dara mengusapnya untuk merasakan sebengkak apa, tapi baru tersentuh sedikit saja dia sudah mengerang kesakitan.
Navyn menamparnya begitu keras, sakitnya sampai tak mau hilang bahkan hingga sekarang.
Dara berdiri dan menuju kaca besar di samping lemari bajunya untuk mengecek kondisi wajahnya lebih jelas.
Astaga, pipinya bukan lagi berwarna merah, tapi bengkaknya sudah berwarna keunguan, membuatnya terlihat lebih chubby. Chubby sebelah.
Uhh, aku memang pantas dapet hadiah ini. Bagus Navyn tidak membunuhku. Dasar pengkhianat idiot!
Dara memaki dirinya sendiri sepuas hati.
Bagaimana bisa aku melakukan ini kepada Navyn, padahal aku tau perihnya seperti apa jika orang yang kita cintai 'menyentuh' orang lain.
Tanpa sadar Dara menangis lagi.....
Habis sudah. Setelah ini Navyn pasti membenciku dan tidak akan pernah mau menemuiku lagi.....
Dalam kepedihan hati yang terus melandanya, dia mencoba mengingat kembali kejadian sore tadi.
Dimana setelah melampiaskan emosinya, Navyn langsung keluar dari mobilnya dan berlari sambil menangis.
Dara tidak mengejarnya, bodohnya, dia malah berdiam diri sambil terus mengusap perih pipinya setelah pengakuannya terungkap. Dia membiarkan Navyn pergi tanpa berusaha untuk memberi penjelasan.
Dara tidak ingin menahannya.....
Bukan karena tak peduli, tapi karena dia malu pada Navyn, Dara tidak sanggup melihat matanya yang menatap penuh kebencian. Wajahnya ini pasti menjijikkan sekali di mata Navyn.
Hati Dara rasanya seperti tersayat melihat kesedihan tampak begitu jelas di mata indah Navyn.
Sebenarnya Dara tidak siap dengan semua ini, mengakui kebodohannya pada Navyn secepat ini benar-benar di luar rencana.
Hanya saja Dara merasa tidak bisa membohonginya lebih lama lagi.
Mata cantik itu membuatnya "menyerahkan diri". Dara tidak bisa memperpanjang kebohongan itu lagi di depan Navyn. Dara tidak mau.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADARA
RomanceApa yang akan Adara lakukan untuk menemukan cinta yang dia inginkan? Sementara dirinya sendiri tidak bisa menentukan sikap. Siapa yang akhirnya dia pilih? GxG XOXO ❤️
