Navyn's POV
Aku kangen banget sama Adara. My baby.
Entah berapa malam aku lewati dengan rasa sepi, sendiri.
Dengan teganya dia ngebiarin aku tanpa kabar selama berhari-hari. Dia pikir aku ini apa!
Rasanya sudah bosan aku menangis, bantal gulingku saja sudah muak dengan airmataku. Belum juga sempat kering, sudah kubasahi lagi.
Sayang, kamu benar-benar jahat!
Kulempar ponselku ke sembarang arah. Entahlah, mungkin pecah, atau hancur. Aku kesel banget karena ga ada satupun kabar dari Dara.
Harusnya aku yang lebih marah, memangnya aku pernah menuntut apa darinya? Aku hanya minta satu hal, dan alih-alih melakukan permintaanku, justru dia malah menjauhiku.
Mentang-mentang aku anak kecil, dia pikir aku bisa dipermainkan seperti ini?!
Berulang kali aku berusaha untuk tidak memikirkan dia, tapi hati dan pikiranku sealu beralih padanya.
Sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya......
Aku sendiri ga ingat kapan terakhir kali aku mencoba menghubungi Andien. Kangenpun enggak!
Yang ada di otakku hanya Dara, Dara, Dara dan Dara!
Adara my baby.
"Errgghh...!" Kuremas kepalaku. Rasa kesal ini tidak juga mau hilang.
Dara benar-benar mengabaikanku, bagaimana jika dia benar-benar marah dengan permintaanku? Bagaimana jika dia tidak pernah kembali?
Aku memejamkan mataku sekuat tenaga memikirkan hal itu. Aku takut kehilangan Dara.
Dua hari yang lalu aku sempat mencoba meneleponnya, lima kali, tidak satupun di angkat. Hingga detik ini tidak sekalipun dia merespon.
Aku ingin berteriak sekuat tenaga. Aku marah, entah dengan apa.
Beraninya dia pergi di saat aku yakin sangat mencintai dia, sebagai satu-satunya. Aku ga ingin siapapun lagi. Hanya Adaraku, my baby.
Aku turun dari tempat tidur, berjalan menuju jendela. Kupandangi kotaku dari lantai 15.
Aku bersedekap, mataku berkelana pada apa yang dapat dijangkau oleh penglihatanku.
Banyak lampu dimana-mana. Kuperhatikan lampu bergerak berbaris, itu pasti kendaraan yang sedang kena macet di bawah sana.
Ruangan di beberapa gedung tampak masih menyala. Ada juga yang sudah di matikan.
Kulirik jam di tanganku, sudah jam sebelas malam, tapi suasana di bawah sana masih terang benderang.
Dan ada juga lampu yang berkerlap-kerlip, mungkin restoran atau apa. Semuanya dapat kulihat, semua kuperhatikan hingga detil.
Tapi tidak kutemui bayangan Adara di sana.
"Kamu di mana, sayang??" Desahku lirih. "Mataku sudah lelah mencari, tapi aku ga bisa nemuin kamu...."
Deg!
Tiba-tiba aku tersadar akan kebodohanku.
Daripada aku sibuk menatap ke bawah seperti seperti orang gila dengan harapan dapat menemukan sosok Dara, bukankah lebih baik aku ke butik? Dia pasti ada di sana. Pasti!
Kututup gorden kamarku, lalu ku raih ponselku dari lantai.
"Ah, cuma casingnya aja yang pecah. Untung masih hidup."
KAMU SEDANG MEMBACA
ADARA
Roman d'amourApa yang akan Adara lakukan untuk menemukan cinta yang dia inginkan? Sementara dirinya sendiri tidak bisa menentukan sikap. Siapa yang akhirnya dia pilih? GxG XOXO ❤️
