Tuesday morning, 08.15 AM
NAVYN
Pagi ini aku duduk di meja makan sambil pelan-pelan menghabiskan sarapan yang sudah Adara siapkan untukku.
Sedangkan Dara, si tante-tante itu baru saja berangkat ke kantor dengan terburu-buru karena kesiangan bangun, dan seperti biasa dia membuatku kesal karena tidak menghabiskan sarapannya.
Ternyata tanpa sepengetahuanku semalam Dara tidur larut sekali, dia bilang penasaran dengan mini seri favoritnya di salah satu tv channel. Ergh, awas saja kalau siang nanti dia meneleponku dan mengeluh ngantuk.
Hmm, kalau dipikir salahku juga sih tidur terlalu cepat, aku jadi tidak bisa mengontrol jam tidurnya yang berantakan itu.
Yap, sesuap lagi makananku habis, setelah ini aku akan segera mandi untuk mengejar jadwal yoga, trainerku sudah mengingatkan sejak kemarin. Aku malas sebenarnya, tapi aku ingin aku dan calon baby diperutku ini selalu sehat, jadi sepertinya tidak ada salahnya jika aku melakukan sedikit pengorbanan.
Baru saja kutelan suapan terakhirku, tiba-tiba bel berbunyi.
"Huh, pasti deh ada yang ketinggalan. Dasar tante-tante pikun." perlahan aku beranjak untuk membukakan pintu.
Mulutku menganga, mataku membesar. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Ternyata bukan Adara, yang ada dihadapanku adalah sesosok gadis yang pernah singgah di masa laluku. Seseorang yang pernah sangat sangat kurindukan.
"Hai...." sapanya lembut.
Suara itu, senyuman itu, tatapan itu. Ya Tuhan, bagaimana dia bisa sampai ada di sini?
Aku mengerjapkan mataku berulang kali, masih aku saja terpana melihat kehadiran seseorang yang dulu pernah sangat aku cintai. Bahkan setelah beberapa tahun tidak bertemu, detak jantungku masih saja berdetak hebat tanpa bisa ku kontrol.
Gadis itu masih saja tersenyum padaku saat mulutku semakin menganga.
Ya Tuhan, benarkah yang berada dihadapanku ini adalah kamu, Sabilla?? Tapi, untuk apa? Kenapa baru sekarang?
"Navyn, halo?" gadis itu mengibaskan tangannya didepan wajahku.
Seperti tersadar, aku merapikan sikapku dan berusaha menghadapinya sesantai mungkin.
"Ka-kamu?" argh kenapa juga aku harus kaku begini di hadapannya?!
"Kamu masih ingat aku kan, Vyn?"
Aku mengangguk kaku, membuat senyumannya sedikit mengendur.
"Maaf aku kesini ga bilang dulu, Vyn." Sabilla menatapku tidak enak. Tatapannya mengikat pandanganku untuk terus menatap matanya yang mempesona itu.
Sementara kekagumanku pada fisiknya yang flawless itu sama sekali tidak mengurangi kesinisan dalam wajahku.
"Kamu tau darimana tempat tinggal aku?" tanyaku heran.
Belum sempat Billa membuka mulutnya, aku seperti langsung tersadar. "Ah ya, Vika." aku menggeram pelan. Kesal.
"Kamu jangan marah sama dia, aku yang maksa dia kasih tau alamat kamu, Navyn."
"Kenapa?"
"Karena kalau tanya kamu dulu, aku khawatir kamu menolak kedatanganku, sedangkan di telepon saja kamu seperti menghindar dariku...."
"Emangnya buat apa lagi kamu nemuin aku?"
"Aku ingin tahu keadaan kamu."
"Baru sekarang kamu peduli? Dulu-dulu kemana aja?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ADARA
RomanceApa yang akan Adara lakukan untuk menemukan cinta yang dia inginkan? Sementara dirinya sendiri tidak bisa menentukan sikap. Siapa yang akhirnya dia pilih? GxG XOXO ❤️
