Sad Ending

4.7K 403 309
                                        

Adara's POV

Aku berdiri di depan pintu apartemen Navyn dengan perasaan tak karuan. Aku benar-benar takut untuk masuk dan bertemu Navyn. Aku tidak siap.

Kepalaku pening, hatiku was-was dan pikiranku tak berhenti memikirkan hal yang buruk-buruk, ditambah lagi aku lelah sekali setelah bekerja seharian ini.

Kutekan bel dengan ragu-ragu. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali.

Benar-benar tidak ada sahutan dari dalam. Apa Navyn tidak ingin bertemu denganku? Apa kemarahannya sangat tinggi hingga tidak ingin aku pulang?

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Jika aku tidak masuk, aku mau tidur di mana? Benar-benar merepotkan kalau Navyn sudah seperti ini.

Aku menempel di pintu seperti orang bodoh. Kubenturkan pelan kepalaku berulang-ulang ke kayu kokoh itu sambil memikirkan banyak hal.

Oh!

Atau Navyn tidak ada di dalam? Aku naik uber untuk menuju ke sini hingga aku tidak ngeh apakah ada mobil Navyn di basement.

Kutekan pin kamar dan membuka pintu dengan sangat hati-hati.

"Sayang?" panggilku pelan.

Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, dan, kosong.

Aku masuk dan menutup pintu dengan perasaan tak karuan. Aku cek ke kamar dan tidak ada Navyn di sana. Aku beralih ke dapur, ke toilet, kamar tamu dan ke seluruh ruangan di apartemen ini. Hasilnya nihil.

Gawat. Ternyata Navyn belum pulang. Lalu kemana dia??

Ya Tuhan.....!

Aku duduk dengan lunglai di sofa ruang tamu, kuremas kepalaku yang terasa semakin pusing.

Aku cek ponselku dan tidak satupun ada kabar dari Navyn. Selama perjalanan pulang tadi juga Navyn sama sekali tidak merespon teleponku.

Dengan segera kucoba menghubungi Navyn lagi. Tiga kali, dan hasilnya tetap nihil.

Aku benar-benar kalut. Dan aku tidak tahu harus menghubungi siapa, aku juga tidak ada ide akan mencari Navyn ke mana.

"Ya Tuhan, sayang, kamu di mana, sih?" gumamku sedih dan gelisah. Aku khawatir dengan keberadaan Navyn.

Empat jam aku terdiam di ruang tamu dengan posisi gelisah dan perasaan tak menentu.

Hingga suara pintu yang terbuka membuyarkan keheninganku.

"Navyn?" seruku lega.

Dengan sigap aku berdiri dan bersiap menyambut Navyn dengan sukacita.

Tapi apa yang kudapat?

Navyn berdiri kaku sambil menatapku tajam.

"Sa-sayang.... Kamu dari mana? Kenapa kamu tinggalin aku? Kenapa kamu ga langsung pulang?" tanyaku takut-takut.

Navyn tidak memedulikanku. Dia menutup pintu dan berjalan melewatiku dengan wajah dingin.

"Sayang, aku nunggu kamu pulang, aku benar-benar khawatir. Kamu boleh marah tapi setidaknya jawab pertanyaanku, kamu dari mana?"

Navyn duduk di ruang tamu, meletakkan tasnya ke atas meja, melepas sepatunya, merenggangkan tubuhnya yang lelah dan lalu bersandar dengan lemas di sofa.

Aku menghampirinya, berdiri di depannya sambil menatapnya penuh kecemasan.

"Jawab aku, sayang."

"Bukan urusan kamu." sahut Navyn galak.

Dia benar-benar tidak memedulikanku, dia meletakkan kepalanya di atas sofa dan matanya terpejam. Wajahnya terlihat lelah dan kucel sekali.

ADARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang