Citra memberiku izin untuk tidak ke butik selama beberapa hari, aku harus mengurusi sidangku dengan belajar sepanjang minggu.
Aku resah, aku benar-benar gugup menghadapi akhir dari kuliahku. Dan jujur aku takut hasilnya tidak memuaskan.
"Tenang aja, lo pasti bisa, Ra."
Faldan meletakkan segelas cappucinno dingin dihadapanku, senyumannya begitu meyakinkan.
Lalu dengan segera dia duduk disebelahku.
"Thanks."
Aku menyeruput minumanku sambil membalas senyumannya.
Faldan adalah sahabat kentalku di kampus, kami bersahabat sejak akhir semester kuliahku, kami berkenalan karena sama-sama sering nongkrong di café yang sama di dekat kampus.
Dan sebenarnya, beberapa minggu yang lalu Faldan baru saja menyatakan perasaannya padaku, ahh, dia membuatku semakin pusing saja dengan hari-hariku.
Mana bisa aku menyukai sahabatku sendiri? Aku tahu dia tampan dan pintar, tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya.
Lagipula aku belum genap tiga bulan putus dari Kiki, gadis itu masih menjadi pemilik hatiku hingga saat ini dan entah sampai kapan. Kiki terlalu indah untuk kulepas bahkan dari kenanganku sekalipun.
Bukannya aku tidak menginginkan seseorang pengganti Kiki mengisi hatiku, tapi aku belum siap. Aku takut seseorang itu tidak bisa semanis dan menyenangkan seperti mantan kekasihku itu.
Aku tidak peduli nantinya akan kembali berhubungan dengan laki-laki atau perempuan, yang penting orang itu bisa membuatku semangat menjalani hari-hariku.
Jujur, aku ingin lagi merasakan jatuh cinta.
Dua bulan berlalu. Sidangku berjalan lancar, aku mendapatkan nilai lumayan dan aku puas sekali akan hasilnya.
Aku akan bersiap dengan wisudaku dan mengambil ijazah baruku. Berharap gelar baruku dapat membantuku untuk mendapatkan karir yang lebih baik.
Selagi menunggu wisuda aku kembali menyibukkan diriku di butik, aku tahu sekali Citra kewalahan tanpa bantuanku, tapi aku senang bisa membuatnya bangga dengan kelulusanku.
******
"Ini baru sahabat gue!" ucap Citra heboh di depan pegawai-pegawai butik yang sibuk tepuk tangan untukku. Apa-apaan mereka, haishh!
Teman-teman yang lain memandangiku sambil tertawa dan kemudian satu-persatu memelukku sambil mengucapkan selamat.
Tapi tidak sampai berapa lama acara peluk-pelukan itu terhenti seketika. Tepatnya nafasku yang terhenti sesaat karena mendengar suara seseorang yang kurindukan selama ini.
"Wow, ada perayaan apa ini? Ulang tahun Dara bukannya udah lewat, ya?" Suara lembut itu terdengar ceria.
Refleks aku terdiam.
Ya Tuhan. Suara itu. Dia.....
Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Suara yang paling kuhapal di seluruh dunia ini. Suara merdu yang selalu mengelilingi pikiranku dan mimpi-mimpiku. Bahkan hingga detik ini, setelah berbulan-bulan kami berpisah.
"Kiki! Masuk, Ki! Kita lagi ngasih selamat nih buat kelulusan Dara."
Dengan girangnya Citra menyambut Kiki.
"Woowww." Kiki menatapku takjub.
Dia menghampiriku dan kemudian memelukku erat sekali.
Ya Tuhan, bagaimana bisa aku teramat sangat merindukan pelukan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ADARA
RomanceApa yang akan Adara lakukan untuk menemukan cinta yang dia inginkan? Sementara dirinya sendiri tidak bisa menentukan sikap. Siapa yang akhirnya dia pilih? GxG XOXO ❤️
