3 - Status WhatsApp.

5.3K 386 4
                                        

Tatapanmu melemahkan, membuat hatiku hancur berantakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tatapanmu melemahkan, membuat hatiku hancur berantakan. Pada pandangan pertama, dapatkah rasa ini disebut jatuh cinta?
–Lentera Sagita.

🦋

"Loh, kamu?!"

Benarkah ini Dewa si kakak kelas menyebalkan itu? Ah, sial sekali sepertinya aku hari ini. Mataku mengerjap kala Dewa menatapku tajam. Mengapa aku terpana dengan tatapan tajam itu? Iya, sih Dewa itu ganteng, tapi kan galak! Ish!

"Ngapain lo cewek nolep di sini?!"

Lho. Malah dia yang tanya.

"Ini 'kan rumahku. Kenapa harus kamu yang tanya?"

Kulihat dia tampak mengacak rambutnya gemas. Aku meringis pelan. Apakah ada yang salah dari diriku? Sepertinya kakak kelas ini selalu saja mencak-mencak tidak jelas jika berada di dekatku.

"Ya, Tuhan ...! Mimpi apa hambamu ini bertemu dengan cewek seperti dia?" ujar Dewa lebay. Telunjuk cowok itu menunjukku. Aku melotot. Lantas menunjuk diriku sendiri.

"Kamu apaan sih? Gila, ya?"

"Iya! Gila! Ketemu lo itu seperti malapetaka buat gue, tahu nggak lo?"

Dengan polosnya aku menggeleng membuat Dewa kembali mencak-mencak tidak jelas. Seharusnya aku yang jengkel, toh. Kenapa jadi dia, sih?

"Mimpi apa gue semalam? Kenapa hidup gue rasanya sial banget hari ini. Seragam limited edition gue, harga diri gue dan kenapa harus lo dari beribu-ribu cewek cantik yang harus gue temui hari ini?!"

Tunggu, apa dia bilang? Seragam limited edition? Apakah dia sedang bercanda? Jelas-jelas seragam itu sama seperti milikku, sekolah kita pun sama. Astaga, buat kepalaku pening saja cowok edan ini. Aku melirik lengan Dewa. Tampak ada goresan merah yang memenuhi lengannya. Aku terkejut saat tiba-tiba saja Dewa menyembunyikan lengannya.

"Apa lo cewek nolep lihat-lihat?! Jaga mata lo, ya!"

Aku mengembuskan napasku kasar, sepertinya cowok ini memang benar-benar lebay. Mengapa juga banyak yang mengidolakan dia? Huh, lagian juga masih ganteng Taksa. Kalem pula. Tidak pecicilan seperti cowok di hadapanku ini. Rada-rada edan!

"Lo ...!"

"Sudah, sudah, Dewa. Kamu itu tidak di rumah, tidak di sini kerjaannya cari ribut mulu. Pantes aja adik kamu nangis terus kalo kamu di rumah."

Tante Arini datang dan langsung menceramahi Dewa membuatku menahan tawa. Namun, aku segera menutup mulutku rapat-rapat kala Dewa menatapku melotot. Hobi melotot, Bang?

"Ya, tapi 'kan, Bun ..."

"Diam, Dewa. Sudah makan saja. Ribet kamu itu."

Dia lantas duduk mengikuti perintah Tante Arini. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Kami berempat menikmati makan siang dengan khidmat. Suasana mendadak menjadi hening. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu.

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang