15 - Kunci Hati.

2.5K 267 5
                                        

Masalahnya, rasa ini sulit untuk dihancurkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Masalahnya, rasa ini sulit untuk dihancurkan. Menetap tanpa persetujuan. Menuntun perlahan untuk memulai percakapan. Hingga berakhir dengan rasa nyaman yang sulit dihilangkan.
–Ghama Dewa Baskoro.

🦋

Dinginnya pagi mulai menusuk kulit. Meninggalkan rasa kedinginan yang mulai menjalar. Jaket tebal masih terpasang, enggan untukku melepaskannya. Di luar sana hujan masih mengguyur sekolah. Kelas pun masih sepi. Hanya ada aku seorang ditemani novel dan coklat panas yang sengaja aku bawa dari rumah. Suara grasak-grusuk mulai terdengar. Ku tengok ke arah pintu kelas tak ada siapa-siapa. Merapatkan jaket, aku mulai fokus kembali ke novel yang sedang ku baca.

"Lentera!"

Segala sumpah serapah yang siap untukku lempar kembali tertelan kala melihat wajah Senja yang muram. Jantungku rasanya ingin copot ketika mendengar pekikan keras Senja. Tak tahukah ia bahwa aku sedang ketakutan? Apalagi dengan keadaan kelas yang sunyi menimbulkan keadaan yang sedikit mencekam.

"Apa? Bisa tidak sih kalau kamu datang itu yang kalem sedikit? Apa-apa kok teriak!" balasku.

Dia tak lagi menanggapi. Duduk pun tak bersemangat. Diletakkannya kepalanya di atas meja membuatku tak mengerti ada apa dengan sahabatku ini. "Kamu kenapa?"

Barulah dia mau mengangkat kepalanya. Menatapku tak bersemangat sembari merengek tak jelas. Biasanya, kalau seperti ini pastinya Senja sedang ada masalah dengan Fajar. "Fajar lagi? Kamu kenapa masih kekeuh mau kejar Fajar? Udah tau akhirnya bakal sakit hati, tetep aja dikejar. Sebenarnya, kalau kamu salahin Fajar karena kamu sakit hati, kamu juga salah..."

Dia benar-benar tak menanggapi perkataanku. Hanya duduk diam dan menatapku. "... Ekspektasi kamu yang berlebihan. Kamu yang terlalu berharap. Dia nggak salah, karena dia juga nggak pancing kamu buat suka dia. Kamu sendiri yang mau ambil keputusan buat kejar dia. Udahlah, Nja... Stop it! Buat apa kamu kejar-kejar hal yang nggak pasti? Capek hati tau nggak?!"

Jika kalian beranggapan bahwa perkataanku menyakiti Senja, mungkin begitu. Tangannya terjulur memukul lenganku membuatku menghela napas. Kembali merengek seperti anak kecil, Senja membelakangiku.

"Lo mana tau sih perasaan gue. Lo..."

Sepertinya, dia tak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Aku menyenderkan tubuhku. Menyeruput coklat panas itu sebelum berbicara. "Ya, aku bukan Tuhan yang tau segala perasaan kamu. Aku cuma mencoba untuk mengingatkan kok. Sebelum kamu benar-benar patah hati."

"Ck! Tapi ini gara-gara Maula hua... Masak Fajar marahin gue gara-gara cewek itu. 'Kan jahat, Ra!"

Mendengar nama Maula disebut oleh Senja, aku mengalihkan pandang. Tepat di pintu kelas yang terbuka, terlihat Dewa tengah berjalan dengan Maula. Tanpa sadar juga, tanganku terkepal dibuatnya. Ada gejolak rasa tak suka saat melihat dua insan itu berjalan berdampingan. Tampak serasi pula. Astaga!

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang