Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku dan kamu itu ibarat bulan dan bintang. Kamu adalah bulan yang satu-satunya dan aku adalah bintang yang salah satunya. –Lentera Sagita.
🦋
Aku melangkahkan kakiku di belakang Dewa. Rasa-rasanya aku seperti anak kecil yang takut ketinggalan dan tersesat. Tapi, kurasa itu benar. Aku memang takut jika Dewa tiba-tiba saja meninggalkanku. Kalian tahu bagaimana Dewa 'kan? Datang-datang memaksa lalu setelah itu ditinggal. Dasar!
Entah setan mana yang merasuki tubuh Dewa, dia dengan seenak jidatnya menggenggam tanganku sedari tadi. Diapit di ketiak pula! Untung ketiak orang ganteng, ya. Hihi. Lumayan deh, anget! Mwehehe.
Kami berdua berjalan menyusuri kota yang ramai karena ini malam Minggu. Sebelumnya, aku tak pernah malam Minggu-an begini. Jangankan jalan-jalan, palingan juga jam segini aku sudah ngorok di rumah. Jadi, jika seperti ini aku masih agak canggung. Apalagi setelah perkataan Dewa tadi. Dewa memberhentikan langkahnya di depan warung nasi goreng membuatku ikut berhenti.
"Pak! Nasi gorengnya dua, ya! Nggak pakai timun semua," pinta Dewa pada penjual nasi goreng itu.
Tunggu dulu. Ada yang mengganjal saja rasanya. "Tahu darimana kamu kalau aku tidak suka timun?"
Aku sedikit memiringkan wajahku agar aku dapat melihat wajah Dewa. Lelaki itu menoleh, menatapku dengan raut wajah bertanya.
"Lho. Lo juga nggak suka?" Dewa balik bertanya membuatku menggaruk tengkukku keheranan. Bisa samaan gitu, ya?
"Kita jodoh kali, ya?" tanya Dewa ikut keheranan. Lha?
Kami berdua duduk di kursi yang ada. Entah mengapa, rasanya semakin canggung saja. Tidak pernah aku merasakan seperti ini sebelumnya. Hei! Didekati lelaki saja aku tak pernah. Hanya Dewa satu-satunya lelaki yang mau jalan berduaan denganku. Aneh, bukan? Apalagi, aku yakin jika lelaki itu memiliki segudang gadis yang siap ia ajak kencan kapan saja. Lebay? Kurasa tidak. Lagi pula Dewa itu tampan, bau uangnya saja kerasa sampai sini.
"Mikir jelek mulu lo! Biar gini-gini mantan gue cuma dua, ya!" tegur Dewa sembari melemparkan kulit kacang kepadaku. Lho kok bisa baca pikiranku ini orang? Wah, ngeri!
"Siapa juga yang mikirin Kakak? Pede sekali!" seruku.
"Ye dasar lo Lampu! Lo pikir gue enggak tahu apa yang lo pikirin gitu? Helo! Lo pasti mikir kalau gue punya segudang cewek 'kan? Enak aja lo! Mantan gue cuma dua, ya!" Dewa protes terhadap apa yang aku katakan. Aku meringis, benar juga sih.
"Y-ya, Kakak 'kan tampan. Biasanya kalau tampan itu ciri-ciri playboy. Terus, kalau gitu pacarnya banyak. Apalagi mantannya! Uhh! Menggelikan!" ujarku sembari begidik ngeri. Memang benar seperti itu 'kan? Yang ganteng itu pasti pacarnya banyak! Setahuku sih, ya!
"Woi! Nggak selamanya ganteng itu playboy, ye, Lampu! Kayak gue nih. Ganteng-ganteng tapi setia. Mantan aja belum bisa gue lupain sampai sekarang!" ujar Dewa membanggakan dirinya.
"Lho. Itu mah nggak bisa move on."
Dewa hanya memutar bola matanya malas. Aku menggaruk kepalaku yang terasa gatal. Ngomong-ngomong, kapan ya terakhir kali aku keramas?
"Lo mau tahu mantan gue, nggak?"
Tunggu. Mantan Dewa? Apa manfaat dia memberitahu padaku? Toh, aku juga tak akan peduli. Tapi, kepo juga sih. Ish! Menyebalkan, ya!
"Siapa?"
"Marsya sama Maula."
Uhuk ... uhuk ...
Aku menelan es teh yang baru saja diantarkan dengan susah payah. Marsya? Kakak kelas yang suka melabrak itu? Pantas saja sifat keduanya sama, galak! Cocok sih jadi pacar. Kenapa malah putus, ya? Ah ini harus dibenarkan!
"Kenapa putus? Padahal kamu cocok lho sama Marsya. Sama-sama galak! Ibarat kamu macan jantan dan Marsya adalah macan betina. Cocok bukan?"
Aku bahkan berkata lancar sekali. Seperti aliran sungai. Dewa menggetok kepalaku menggunakan sendok yang ia gunakan. Lelaki itu tampak melotot sembari melahap nasi gorengnya. Kok lucu?
"Sekate-kate lo Lampu! Gini-gini gue pacaran sama Marsya juga kepaksa. Gara-gara si Taksa noh, pujaan hati lo!"
Aku menelan dulu nasi goreng yang aku makan. "Ya sudahlah. Bukan urusanku juga."
Setelah itu, hening. Percakapan kami berakhir di sini.
🦋
Lagi dan lagi, Dewa tidak membawaku pulang. Lelaki itu membawaku ke Club. Geram? Tentu saja. Aku menarik tanganku yang masih setia digenggam oleh Dewa. Mencoba menariknya sekali lagi, namun dia malah menarik tanganku kasar sehingga aku membentur punggung keras lelaki itu. Ish!
"Aku mau pulang, Kak! Pasti Ibu dan Bapak sudah mencariku!"
Dewa tersenyum nakal. "Ck! Gue udah izin sama kedua orang tua lo sebelum bawa lo pergi. Mereka fine fine aja tuh. Gue mau bawa lo ke tempat kesukaan gue. Udahlah selow ae!"
Pasalnya percaya dengan Dewa adalah sebuah malapetaka. Aku mengembuskan napasku gusar. Sial sekali, ya!
Suara musik yang menggema membuatku menutup telinga. Banyak para gadis di sini berpakaian seksi. Kurang bahan lagi. Aku bergidik ngeri. Memang sudah bagus aku jadi anak rumahan, ditemani secangkir teh hangat dan sebuah novel saja hidupku sudah tenang. Tidak seperti ini. Adanya kebebasan yang diberikan orang tua juga terkadang membuat mereka tidak berpikir. Huh! Ini aku yang sedang ketakutan atau apa, sih?
Dewa menyuruhku duduk. Aku hanya manut-manut saja. Pasalnya jika aku berniat neko-neko takut Dewa malah menerkamku sekarang juga. 'Kan ngeri. Geger nanti. Hmm...
Aku melirik kanan kiri, merasakan hawa kengerian luar biasa. Siapa pun, bawa gadis cantik ini pulang. Aku ingin bertemu dengan kasur milikku. Kamarku. Mira. Sinetron kesayanganku. Astaga!
"Mimpi apa lo Wa suka sama yang modelan kayak gini?" tanya salah satu teman Dewa membuatku mengalihkan pandang. Hish! Mati saja sana!
"Dia punya satu hal yang nggak orang lain punya, maybe..." Suara serak dan terkesan agresif itu membuatku menghela napas. Menggoda, err...
"Mau tahu?" Jari-jemari kasarnya menyentuh daguku. Aroma alkohol yang sangat kentara membuatku sedikit ngeri. Mataku terangkat untuk menatap wajah Dewa yang sangat dekat dengan wajahku. Aku menelan ludahku. Sial, tampan sekali! Ekspresinya itu loh! Ingin membuatku menghilang sekarang saja.
"Polos dan oon lo, gue suka, Ra."
🦋
Lentera 'kan polos-polos, oon gimana gitu, ya? 🤪
26 Februari 2021.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.