Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasaku sudah pudar. Peluang untukmu kembali ke orang yang kamu sayang jauh lebih besar. –Algi Taksa Aldebaran.
🦋
Bibirnya membuka dan menutup kembali. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti ada juga yang menahan. Lalu tersenyum dan kembali melanjutkan langkah. Aku tak tau apa yang akan Taksa katakan padaku. Suasana seolah memaksa untuk berbicara. Aku mencekal lengan Taksa sebelum lelaki itu berjalan menjauh.
Namun, Taksa menggeleng dan berkata, "Cari tempat yang enak buat bicara dulu."
Pasrah, aku kembali mengikuti langkah lelaki itu. Tangan besar dan kasarnya menggenggam tangan dinginku. Gugup melanda. Merasakan suasana asing yang tak pernah aku rasakan. Taksa seperti orang lain bagiku. Terlihat kebimbangan di matanya. Mata itu bergerak gelisah. Entah apa yang lelaki itu pikirkan.
Hingga tujuan akhir kami adalah pantai yang cukup sepi pengunjung. Duduk di bawah terangnya rembulan yang menemani. Meminum es kelapa muda yang sempat dibeli. Suara debur ombak yang menghantam pasir menemani sunyi di antara kami. Aku mendesah kecewa pada diriku sendiri. Bahkan dengan Taksa saja aku tak bisa membuat nyaman suasana.
"Sebenernya, rasa lo ke gue itu gimana sih, Ra?" tanya Taksa tiba-tiba. Tak menatap atau bahkan setidaknya menoleh padaku.
Aku menggeleng. "Enggak tau, Kak. Enggak bisa dijelasin."
"Lo nyaman sama gue?" tanyanya lagi.
Nyaman, dalam artian lain, jawabku dalam hati.
"Nyaman, tapi entah nyaman yang kayak gimana Lentera sendiri juga enggak tau."
"Jujur sama gue. Jujur apa yang lo rasakan ketika lo ada di dekat gue. Apakah itu sama atau nggak kayak yang lo rasain waktu di dekat Dewa. Keluarin semua isi hati lo ..."
"... tanpa ada kebohongan. Karena gue nggak butuh itu, Ra," ujar Taksa membuatku terdiam.
Cukup lama aku terdiam membuat Taksa menghela napas. Terdengar sangat jelas dan lelah.
"Please, Ra. Jujur sama gue, gue nggak akan marah."
Setelah cukup lama memantapkan hati, aku memilih untuk jujur. Tentang apa yang aku rasakan ketika dekat dengan Taksa. Bahwa ini tak lebih dari sekadar teman.
"Jujur, Lentera cuma anggap Kak Taksa sebagai Kakak. Kakak kelas terbaik yang pernah Lentera temui. Kakak yang Lentera anggap sebagai Kakak kandung Lentera sendiri. Karena semakin Lentera menggali informasi dari diri Lentera sendiri tentang perasaan ini, cuma kebuntuan yang Lentera temukan. Semakin Lentera paksa untuk mencoba suka sama Kakak, semakin Lentera tau kalau bukan Kakak yang Lentera suka."
Cukup, entah mengapa rasanya begitu menyakitkan ketika mengeluarkan semua yang aku rasakan pada Taksa. Jujur memang menyakitkan, tetapi terlena oleh bohong jauh lebih menyeramkan. Aku memang jahat, tetapi ini yang terbaik. Entah Taksa akan menganggapku seperti apa, terserah. Ini diriku. Diriku yang mengecewakan.