Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ingat, bilang suka belum tentu cinta. Bilang nyaman belum tentu jadi pasangan. Dia hanya bercanda, bukan menyuarakan rasa. —Kakak Kelas.
🦋
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku mendesah lega. Tanganku rasanya mau mati rasa karena terlalu lama mencatat materi yang diberikan oleh Bu Susanti. Aku mendengkus kala Senja menyenggol lenganku.
"Kamu sengaja?"
Senja beralih menatapku. Bukannya marah, dia malah menunjuk ke arah depan kelas. Aku mengernyitkan dahi. Tak mengerti akan maksud Senja sebenarnya. Aku menoleh pelan. Seketika itu juga aku membeku di tempatku duduk. Dewa tengah tersenyum manis. Menatapku dengan pandangan yang aku sendiri pun tak mengerti apa maksudnya.
"Ngapain kamu di sini?" Bu Susanti bertanya pada Dewa. Guru muda itu berkacak pinggang. Raut wajahnya tampak tak suka akan kehadiran Dewa.
Mataku tak pernah lepas dari apa yang Dewa lakukan. Dia menyalimi tangan Bu Susanti. "Jadi, gini buk. Saya mau jemput pacar saya. Saya disuruh sama Bunda saya, buk."
Semua yang ada di kelas sontak berbisik-bisik. Aku menunduk. Aku jadi ge-er sendiri. Mengapa pandangan Dewa selalu terfokus padaku? Apakah yang dimaksud 'pacar' oleh Dewa adalah diriku? Aish! Apa-apaan sih Lentera?
"Siapa pacar kamu?"
"Lentera Sagita, buk."
Mataku terbelalak dibuatnya. Aku terperangah. Lantas menggelengkan kepalaku tanda tak setuju akan perkataan Dewa sialan itu. "Eng--"
"Nih, buk kalau enggak percaya. Bunda saya sendiri loh yang chat. Ibuk nggak percaya?"
Aku keduluan. Apa sih sebenarnya mau Dewa si kakak kelas menyebalkan itu? Apakah dia ingin balas dendam karena kejadian di kamar mandi tadi? Ish! Kalau berita ini menyebar ke seluruh penjuru sekolah bagaimana? Apakah hidupku akan setenang ini? Atau, malah sebaliknya? Dan bagaimana jika Bapak tahu akan hal ini? Astaga, Mira tolonglah majikanmu ini!
Kulihat Bu Susanti menghela napasnya pelan. "Ya. Sana."
"Ayo, sayang." Dia mengedipkan matanya genit. Aku bergidik jijik. Ingin muntah saja rasanya.
"Tap--"
Dia berjalan mendekat padaku. Mengemasi barangku pelan. Lantas menatapku dengan pandangan kemenangan. "Lo protes. Gue gendong lo sekarang juga."
Apa dia bilang? Gendong? Ah, otaknya sepertinya memang benar-benar kotor.
"Kamu tahu, itu termasuk tindak pelecehan. Tahu tidak?"
Dia tertawa geli. Memegang daguku agar aku mau menatapnya. "Gue enggak tahu Lentera bawel."
Aku hanya diam. Melempar pandang agar aku tak menatap cowok menyebalkan itu. Dia melemparkan tasku kasar. Aku mendengkus tak suka.