13 - Si Pengganggu.

2.7K 287 7
                                        

Terlalu sering terbiasa hingga lupa kita juga bukan siapa-siapa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terlalu sering terbiasa hingga lupa kita juga bukan siapa-siapa.
–Ghama Dewa Baskoro.

🦋

Aku melirik sekitar ketika suara seseorang memanggilku dari arah belakang. Dan benar saja. Di belakang sana, Taksa tengah berlari sembari menyebut namaku. Membuat beberapa orang menengok ke arah kami berdua. Aku menatap Taksa yang tengah mengatur napasnya. Lalu tersenyum manis padaku membuatku langsung membalas. "Kenapa, Kak?"

"Ikut gue mau, nggak?"

"Ke mana?"

Sebenarnya, aku tidak enak untuk menolak. Ku tengok, jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Beberapa guru hari ini rapat dan memutuskan kami untuk pulang lebih awal.

"Ikut aja. Mau?" tanyanya, lagi.

"Boleh deh," jawabku sedikit ragu.

Tangan besar dan hangatnya menyambut telapak tanganku membuatku sedikit terkejut. Namun, lama-kelamaan aku nyaman juga. Dia membawaku ke parkiran. Menjumpai motor matic miliknya. Ini yang aku suka dari Taksa. Sederhana dan sedikit cuek. Membuatku tak takut jika aku dijadikan pacarnya nanti. Eh?

"Sini bentar," katanya membuatku sedikit mendekat ke arah Taksa.

Dia menatapku serius saat memasangkan helm padaku. Sedangkan, aku sama sekali tak berkedip menatapnya. Iris matanya yang tenang, alis seperti goresan pena yang menyatu serta rambut hitamnya yang lebat membuatku tak sanggup untuk tidak menyunggingkan senyum.

"Udah. Ayo," ajak Taksa sembari memutar balik motornya. Aku segera naik. Tak lama, kendaraan beroda dua ini membawa kami keluar dari pekarangan sekolah. Semakin berjalan menjauh dan aku tak tau Taksa akan membawaku ke mana.

"Kakak sepupu gue punya geng motor yang anggotanya banyak banget. Mereka sering ngadain acara kecil-kecilan gitu di panti asuhan. Walaupun mereka sering buat rusuh, mereka juga sering berbagi sama anak yatim-piatu yang nggak punya orang tua. Gue jadi salut. Dan, gue mau ajak lo ke sana."

Taksa memberitahu tujuan kami saat ini akan ke mana. Aku terdiam sejenak. Apakah asumsi ku tentang anak-anak geng motor salah? Selama ini, ku kira mereka benar-benar jahat. Hidupnya hanya meresahkan masyarakat. Tapi, aku baru tau kalau mereka bisa sebaik itu. Huh, benar-benar pikiran buruk yang meresahkan.

"Ra. Lo kenapa? Jangan ngelamun," tegur Taksa membuatku terkejut.

"E-eh, hehe. Enggak apa-apa kok, Kak. Cuma kaget aja denger cerita Kakak," balasku sungkan.

"Kenapa kaget?"

"Y-ya gitu," jawabku kikuk. Bingung harus menjawab apa.

"Gitu gimana?" tanya Taksa lagi.

"Ya gitu," jawabku sembari terkekeh. Taksa pun ikut terkekeh sebentar. Lalu keadaan kembali hening seperti semula. Hanya ada suara beberapa kendaraan yang bising. Aku melirik spion motor Taksa. Rasa-rasanya seperti ada yang mengikuti kami di belakang sana. Atau, hanya perasaanku saja? Ah, tidak peduli deh.

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang