10 - Dipermainkan Takdir.

3K 313 21
                                        

Bukan aku tak mau, namun ini membuatku mati kutu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bukan aku tak mau, namun ini membuatku mati kutu. Bukan takut jatuh cinta, namun takut masuk ke dalam jurang percobaan yang sama. Kala kutahu bahwa rasamu, bukanlah untukku.
–Lentera Sagita.

🦋

Selepas pulang, Ibu langsung saja menyuruhku untuk mengantar pesanan kue kering ke tempat pelanggan Ibu. Aku mengembuskan napasku tak suka. Namun, jika tidak diantarkan sekarang juga maka pelanggan Ibu akan mengamuk. Ciri-ciri pelanggan menyebalkan ya seperti ini.
Namun, jika tak ada mereka maka jualan Ibu tak akan laku. Menyebalkan, ya. Jadi serba salah pula.

Aku menelan ludah kasar. Melirik kanan kiri ketakutan. Bagaimana, tidak? Di sebelah kanan jalan itu ada kuburan dan di sebelah kiri jalan hanya ada pepohonan. Andai saja ponselku tidak mati pasti aku sudah memesan gojek. Hah, terima sajalah.

Kakiku berjalan dengan begitu cepat. Keringat dingin mulai bercucuran. Degupan jantungku rasanya tidak waras. Mataku melirik ke arah pohon bambu yang sedang aku lewati. Bagaimana jika ada putih-putih bergelantungan di sana? Aku bergidik ngeri. Merapatkan jaket yang aku kenakan. Rasanya aku sudah berjalan cukup jauh, akan tetapi mengapa mataku tak melihat satu pun jalan raya? Bahkan, penerangan di sini pun minim. Hanya ada beberapa lampu jalan yang terpasang.

"Hmpftt--"

Aku terkejut bukan main. Mataku melebar kala melihat seseorang yang membekap mulutku dengan tangan besarnya. Aku semakin takut. Tanganku gemetaran tak karuan.

"Ssstt, diam Lentera. Nanti ketahuan."

Suara itu? Astaga, dari ribuan manusia di dunia ini, mengapa harus Dewa lagi yang aku temui? Bahkan, baru tadi kami berpisah. Hei, selucu itu takdir ketika bercanda. Aku menepuk keras tangan Dewa. "Ke--"

Melihat isyarat mata dari Dewa membuatku kembali terdiam sesaat. Aku melirik ke depan. Di mana dua orang preman tengah mondar-mandir dengan wajah garangnya. Aku bergidik ngeri. Heran akan apa yang telah Dewa lakukan. Biasanya sih kalau begitu, Dewa pasti sedang berbuat ulah.

"Mereka siapa? Kenapa kamu sampai sembunyi-sembunyi?" bisikku pelan.

Dewa menoleh. Rambutnya yang basah karena keringat membuatku terdiam. Jantungku ingin lompat saja. Bukannya jijik atau apa, ketampanan Dewa malah bertambah dua kali lipat. Dengan sudut bibir yang berdarah. Aku memundurkan wajahku kala Dewa memajukan tubuhnya.

"Kenapa? Gue ganteng, ya?"

Senyum khasnya tak pernah hilang. Dengan kedipan genitnya sebagai pelengkap. Dasar! Aku memalingkan wajahku. Bayangkan posisi kami berdua. Di semak-semak. Hanya berdua. Apa tidak salah sangka nanti jika ada warga yang melihat? Bagaimana jika aku diboyong ke rumah RT setempat dan dinikahkan dengan Dewa? Demi apapun jika itu sampai terjadi, itu adalah mimpi buruk untukku!

"Jawab aja," ucapku.

"Ck! Gue tadi tuh ngikutin elo, Ra. Gue heran aja. Belum ada semenit elo masuk rumah, elo udah keluar lagi. Siapa tahu gitu lo mau kerja jadi wanita malam. Gue 'kan curiga."

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang