4 - Hansaplast.

4.3K 383 0
                                        

Dia hanya tertawa, lantas mengapa hatimu ikut terbawa suasana?–Lentera Sagita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dia hanya tertawa, lantas mengapa hatimu ikut terbawa suasana?
–Lentera Sagita.

🦋

Pagi yang berkabut menyambut penglihatanku. Aku melirik gerbang yang belum dibuka. Ah, andai saja Bapak tidak masuk pagi pasti aku masih menikmati sarapan Ibu pagi ini. Aish! Mana dingin sekali.

Brum ... brum ...

Aku melirik ke belakang. Suara deru motor yang memekakkan telinga mengalihkan fokusku. Mataku terbelalak. Dari ribuan siswa di sini, haruskah Dewa yang ada di hadapanku sekarang?

"Geser lo!"

Aku mendengkus sebal. Membawa tubuhku ke samping agar Dewa bisa duduk di sampingku. Kulihat pagi ini mendung sekali. Aku melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, namun gerbang belum juga dibuka. Bahkan, beberapa siswa sudah berlalu lalang.

"Apa lo?!"

Ini orang maunya apa, sih? Orang cuma lihatin doang kok ngegas banget. Aku mengalihkan pandanganku. Muak menatap Dewa yang memang benar-benar menyebalkan.

"Harusnya kamu minta maaf. Udah tahu buat kesalahan, eh malah biasa-biasa aja. Nggak tahu diri." Aku mencibir tak suka. Lagian kemarin malam Dewa juga salah 'kan?

"Tunggu. Apa lo bilang? Gue? Minta maaf? Helo! Siapa, ya, lo mampu nyuruh-nyuruh gue? Orang tua, gue? Bukan 'kan? Diem aja udah. Jangan banyak bacot lo!"

Aku mengusap wajahku kasar. Mumpung gerbang sudah dibuka, jadi lebih baik pergi dari tempat ini. Memancing emosi saja. Dengan sengaja, aku menginjak kaki Dewa keras-keras membuat cowok itu menatapku melotot.

"Woi adik kelas songong! Awas, ya, lo!"

Aku menulikan pendengaranku. Tidak lagi menghiraukan Dewa yang mengejarku sembari teriak-teriak tidak jelas. Aku menghampiri tempat Mpok Popon jualan. Ya, aku memang disuruh Ibu untuk menitipkan beberapa jajanan yang Ibu buat di warung Mpok Popon.

"Eh, tumben Neng jam segini baru dateng."

Aku menghela napasku kasar. Mencomot satu roti untuk ku makan. "Iya, Mpok. Tadi gerbangnya belum dibuka. Kebo tuh Mang Iwa."

Mpok Popon lantas tertawa. Mang Iwa adalah satpam sekolah sekaligus suami Mpok Popon. "Ah, si Eneng, mah. Tadi kesiangan bangun, Neng."

Aku menggerutu tak jelas. Gara-gara gerbang belum dibuka tadi, aku harus rela berbagi tempat dan duduk berdua dengan Dewa. Bukan apa-apa, tapi itu menyebalkan bukan main. Dewa itu tipikal cowok tak jelas yang suka marah-marah. Nyolot pula kalau ngomong.

"Lentera!"

Aku menoleh, menatap Senja yang menghampiriku dengan napas yang ngos-ngosan. Aku menatapnya tak minat. "Apa?"

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang