Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ingin melepas, tapi sulit. Memilih memendam, tapi sakit. Terlihat ingin, tapi tak mungkin. –Kakak Kelas.
🦋
Taksa duduk di sebelahku. Tersenyum tipis sebagai sapaan yang langsung aku balas. Dia merapatkan duduknya, mendekat padaku. Ku lirik, banyak sekali yang mengamati kami membuat aku salah tingkah. Apalagi, ditatap seintens itu oleh Taksa. Kakak kelas yang pernah aku kagumi dulu. Dulu? Karena kekaguman ini kini berubah pada Dewa. Yang sekarang berdiri di depan pintu kelas sembari bercanda dengan Fajar.
"Belum makan, 'kan? Nih, makan dulu. Nanti sakit," katanya sembari memberikan satu bungkus nasi goreng dan teh hangat.
Belum sempat bilang berterima kasih, Taksa sudah berlalu pergi tanpa sepatah kata apapun. Pergi bersama Dewa dan Fajar. Senja yang tadinya duduk di meja guru sekarang menghampiriku. Dengan suara cempreng seperti biasanya. Diikuti oleh Ayu dan Diva yang tadinya bercakap-cakap bersama Senja.
"Wah-wah, beruntung banget lo, Ra. Taksa itu cuek, terkesan enggak peka. Dulu tuh pernah ada yang kasih kode ke Taksa, ngasih surat ke Taksa secara diam-diam. Tapi, dia enggak pernah bales. Bahkan, suratnya aja dia buang. Enggak dibaca pula. Kapok deh gue pernah suka sama Taksa," ujar Diva sembari mengibas rambutnya membuatku terkekeh kecil.
"Buset, Div... Sejak kapan lo jadi penguntitnya si Taksa sampai-sampai lo tau semuanya?" tanya Ayu heran.
Diva tersenyum aneh. "Ya... Ck, lo 'kan tau gue gimana, Yu. Enggak usah dibahas, deh."
Aku hanya menanggapi percakapan mereka dengan gelengan kepala heran. Sungguh, seterkenal itukah Taksa? Iya sih, dia itu tampan. Cuek, tapi selalu perhatian. Itu yang aku tangkap semenjak dekat dengan Taksa. Bahkan, dulu saat awal-awal masuk SMA, dia pernah menolongku dari bully-an kakak kelas. Sejak saat itu pula, aku mengagumi Taksa.
"Cowok emang gitu. Dia hanya akan menunjukkan hal-hal yang nggak orang lain tau ke cewek yang dia suka. Lo berdua nggak pernah deket sama cowok ya mana tau," timpal Senja sembari melahap nasi goreng yang diberikan oleh Taksa tadi.
Aku mengalihkan pandang. Menatap ke jendela luar, di mana terlihat Dewa yang tengah bermain basket seorang diri di lapangan. Senja benar. Tapi, yang kulihat selama ini, Dewa hanya bersikap biasa-biasa saja padaku. Dia memang usil, tapi dia juga melakukan hal yang sama pada teman perempuannya. Bukan hanya aku saja.
Jika begitu, salahkah aku berharap? Atau, Dewa memang hanya bercanda saja? Aku mendengkus. Benar, dia hanya bercanda. Aku saja yang terbawa suasana. Ya, lucu memang. Tak ku sangka, aku sedalam ini menganggap semua lelucon Dewa sebagai keseriusan yang akhirnya hanya membuatku kecewa. Ah, bodoh sekali kamu Lentera!
"Sakit, ya? Makanya... jangan terlalu bawa hati kalau deket sama orang. Dia cuma pengen kenalan kok, bukan untuk jatuh cinta sama lo. Lain kali, sarapannya pake makanan, ya. Jangan harapan," ejek Senja tepat di telingaku membuatku mendengkus resah.