18 - Kata Dewa.

2.7K 241 7
                                        

Bagaimana bisa aku menerima orang baru, sedangkan bayangmu saja masih senantiasa hadir dan menghantuiku?–Lentera Sagita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagaimana bisa aku menerima orang baru, sedangkan bayangmu saja masih senantiasa hadir dan menghantuiku?
–Lentera Sagita.

🦋

Matanya memicing. Memperhatikan seorang gadis yang tengah berjalan sendirian di pinggir jalan. Dewa menjalankan motornya lebih cepat, ingin memastikan jika gadis itu adalah orang yang selama ini memenuhi pikirannya atau tidak. Dewa memiringkan wajahnya, melirik gadis yang menunduk itu.

"Lo, Lentera?"

Kala wajah itu mendongak, Dewa terdiam. Sebuah kebetulan ternyata. Senyum Dewa melebar melihat raut wajah milik Lentera. "Taksa mana? Bukannya lo tadi sama dia, ya?"

"Kok Kakak tau?" balas Lentera sembari menaikkan satu alisnya bertanya.

Dewa seketika gelagapan. "Y-ya, tau aja deh! Lo nggak perlu tau. Penting banget emang buat lo?"

"Tidak juga," jawab Lentera acuh tak acuh.

Lentera meninggalkan Dewa sendirian. Dewa meringis pelan. Sepertinya, dia tak pernah berbuat salah. Lalu, mengapa gadis itu berlalu pergi begitu saja? Wajahnya pun murung. Tak semenyebalkan seperti biasanya. Memilih untuk tidak berpikiran negatif, Dewa menjalankan motornya pelan. Menyeimbangi langkah Lentera yang lesu. Seperti tak bersemangat.

"Kenapa sih lo?"

Tak menjawab, Lentera memilih terus berjalan. Dewa berdecak. Jika dilihat-lihat lagi, Lentera seperti sedang galau. Pikiran Dewa pun ikut galau. Mengingat tadi ia sempat bertemu dengan Taksa. Katanya, hari ini Taksa akan menjadikan Lentera sebagai pacar. Dan itu berhasil membuat Dewa uring-uringan sedari tadi. Bahkan, Arini sampai gemas dibuatnya.

"Naik deh, Ra. Lo kayak orang stress lama-lama. Cepetan! Nggak terima penolakan gue."

Lentera mendengkus. "Kakak pergi deh. Lentera mau sendiri."

Mendengar jawaban dari Lentera, Dewa turun dari motornya. Menyeret Lentera untuk duduk di atas motornya. Lalu, tanpa basa-basi lagi Dewa segera melajukan motornya cepat. Dewa melirik Lentera dari spion motor miliknya. Bibirnya tertarik untuk tersenyum. Apalagi melihat helaian rambut milik Lentera yang menutupi sebagian wajah Lentera.

Pandangan Lentera mengedar. Menatap sekitar penuh tanya. Dia menatap Dewa yang baru saja turun dari motor. Ditariknya kaos yang dikenakan oleh Dewa. "Kenapa ke sini?" tanyanya.

"Nggak ada, cuma pengen main aja. Ayo," ajak Dewa. Digenggamnya erat tangan Lentera yang terasa begitu dingin.

"Rumah pohon?" tanya Lentera antusias ketika melihat sebuah rumah pohon besar berdiri kokoh di hadapannya.

"Iya. Naik gih, duluan."

Tak disuruh pun, Lentera sudah naik ke atas duluan. Disusul oleh Dewa. Mereka duduk di sana. Menatap langit malam yang tampak tenang. Di bawah temaramnya rembulan, dapat Dewa rasakan bunyi detakan jantungnya yang menggila. Seperti lonceng pengingat, bahwa ia benar-benar memiliki rasa pada Lentera. Ditatapnya dalam mata milik Lentera. Sialnya lagi, Lentera juga sedang menatap Dewa. Terjadilah kontak mata singkat itu.

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang