Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semakin aku ingin melepas diriku darimu, semakin aku terseret dalam indahnya kenyamanan yang kamu berikan. –Lentera Sagita.
🦋
Kulihat Dewa tengah melebarkan senyum sembari memejamkan mata. Aku mengalihkan pandang, kembali menatap lurus ke depan. Terik matahari seolah menyorot diriku yang sudah banjir keringat. Gara-gara kejadian tadi, Bu Mulyani mengira kami akan melakukan hal yang tidak-tidak. Dewa kalau bercanda memang keterlaluan, ya. Bahkan, Tante Arini sampai datang ke sekolah dan menceramahi kami panjang lebar. Huh, telingaku rasanya panas sekali mendengarnya.
"Andai tadi Bu Mulyani enggak dateng, ya. Pasti gue udah merasakan bibir kenyal lo itu," ujar Dewa tiba-tiba. Sembari mengedipkan matanya seperti biasa.
Aku masih bergeming. Kejadian tadi itu sungguh memalukan. Untung saja Tante Arini tak akan bilang hal ini pada Bapak ataupun Ibu. Jika Tante Arini sampai bilang, entah bagaimana reaksi Bapak dan Ibu nanti.
"Ck! Kalau mau sih bilang aja, Ra. Gausah mesam-mesem kayak orang gila!" cibir Dewa padaku.
Apa katanya? Mesam-mesem? Dia pikir aku sedang mabuk apa, ya. Aku mendengkus. Menggaruk rambutku yang gatal. Beberapa guru mengawasi kami berdua. Ini perintah dari Tante Arini. Pasrah sajalah.
Bel istirahat berbunyi, namun itu tak ada gunanya bagiku dan Dewa. Karena kami dihukum sampai nanti pulang sekolah. Beberapa siswa dan siswi yang lewat menatap kami heran. Tak sedikit juga yang mencibir. Seperti Marsya cs contohnya. Lihatlah mereka yang sedang duduk di bawah pohon beringin. Tengah berbisik-bisik seperti mencibirku. Bukannya sok tahu atau apapun itu, tapi Marsya 'kan suka Dewa. Tak ada salahnya aku sok tahu sekali saja 'kan?
"Ra, gue punya peraturan buat lo selama lo jadi asisten pribadi gue."
Ah, ya. Entah apa yang ada di pikiran Tante Arini hingga menyuruhku untuk menjadi asisten pribadi Dewa. Katanya, Dewa itu terlalu nakal sehingga Tante Arini was-was jika Dewa melakukan hal yang tidak-tidak seperti kejadian tadi. Bisa seperti itu, ya? Dan anehnya lagi, mengapa harus aku?
"Apa?" tanyaku. Menoleh karena sedikit kepo akan apa yang Dewa katakan.
"Selama lo jadi asisten pribadi gue, lo enggak boleh ada rasa sama gue. Gue bebas melakukan apa yang gue mau. Mau gue balapan, mau gue ngapain kek, lo nggak boleh ngadu hal itu sama Bunda. Kalau sampai lo ngadu, siap-siap aja lo jadi santapan makan malam gue," ancam Dewa membuatku bergedik ngeri.
"Terserah kamu lah, tidak berpengaruh juga buatku."
Dia tersenyum miring. Menatapku meremehkan. "Ah, ya?" tanyanya dengan nada meremehkan. Lantas mendekatkan bibirnya pada telingaku. Aku berusaha untuk tenang, namun debaran jantungku bertolakbelakang dengan apa yang harus aku lakukan. "Kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Lo bakal terbiasa sama gue, enggak mungkin 'kan kalau lo enggak ada rasa sama gue? Gue jamin, entah itu kapan, lo akan suka sama gue."
Setelahnya, dia membawa tubuhnya menjauh membuatku menghela napas lega. Aku tak lagi menanggapi. Karena bicara urusan hati itu terlalu sensitif. Jika aku suka, memangnya kenapa? Namun, aku harap rasa suka itu tak pernah datang dan tak akan menghancurkan semuanya. Aku lebih suka seperti ini, menjadi Lentera si adik kelas menyebalkan untuk Dewa dan dia tetap menjadi Dewa, si kakak kelas menyebalkan untukku.
Aku terjengit kaget saat melihat topi upacara sudah terpasang rapi di kepalaku. Aku mendongak, menatap Dewa yang tengah tersenyum.
"Topi gue. Pakai aja udah. Protes mulu lo Lampu!" ujar Dewa seakan tahu apa yang ada di pikiranku.
"Sekaligus nggak mau calon pacar gue gosong kena matahari sih, lebih tepatnya," bisik Dewa terdengar menggelikan. Aku menoleh, hidung kami bahkan sempat bersentuhan. Ku lirik mata Dewa yang menatapku dalam. Dengan senyum jahil khasnya.
Aku segera menjauhkan kepalaku dari Dewa. "M-maksudmu, apa?" tanyaku tergagap akibat banyak pasang mata yang menatap kami aneh. Bahkan, sempat beberapa cowok yang sedang bermain basket menyoraki kami berdua.
"Kalau lo enggak tepati peraturan yang gue buat, lo jadi pacar gue. Selama dua bulan ini, kalau lo berhasil enggak menaruh rasa sama gue, berarti kita kayak dulu. Enggak saling kenal. Tapi, kalau lo kalah, lo jadi pacar gue. No debat. No protes. Dan no negoisasi," jelas Dewa panjang lebar.
Refleks, aku mengumpat dalam hati. Permainan macam apa yang Dewa buat? Mengapa semakin ke sini, dia semakin mengurungku dalam lingkaran permainan yang dia buat? Bagaimana jika aku kalah dan benar-benar menaruh rasa pada Dewa?
"Oke, siapa takut," tantangku dengan nada meremehkan Dewa. Oke, Lentera. Jaga perasaanmu dan jangan sampai jatuh hati pada lelaki aneh ini. Mari, kita lihat siapa yang menang.
Dewa menjulurkan tangannya. "Deal?"
"Deal!" jawabku mantap sembari menjabat tangan Dewa.
Mulai sekarang, permainan konyol ini akan dimulai. Tunggu dua bulan lagi, mari kita lihat siapa yang menang.
"Gue enggak suka pacaran ..." ujar Dewa lagi, tiba-tiba dan tak terduga. Aku tak memiliki niat untuk bertanya pun, dia sudah berbicara hal yang tak seharusnya aku tahu. Dewa tak suka berpacaran? Apa hubungannya denganku?
"... tapi, kalo sama lo sih oke-oke aja."
Aku meliriknya sinis. "Tidak. Tidak mau," tolakku dengan nada tak suka yang kentara.
"Lo orangnya terlalu bawa perasaan. Gue orangnya bikin nyaman. Sepaket. Gue jamin lo kalah. Tunggu aja. Bye!"
Dia melangkahkan kakinya pergi dengan tenang karena sudah tak ada guru yang menjaga lagi. Dia mendekati beberapa cowok yang sedang berkumpul. Dengan senyum manisnya, dia kembali mengedipkan mata. Sungguh kebiasaan yang tak ada manfaat sama sekali.
"Woi! Lo pada! Lo tau cewek yang namanya Lentera Sagita, nggak?!" teriak Dewa tiba-tiba membuat perasaanku tak enak.
"Tau! Kenapa Wa?! Kenapa?!" Mereka menyahut dengan senangnya sembari melirikku. Dan anehnya lagi seluruh tubuhku gemetar. Kakiku tak sanggup untuk kubawa melangkah. Tuhan, sadarkan Lentera. Sadarkan Tuhan!
"Gue pemilik hatinya! Hahay!"
Aku melotot kaget. Debaran jantungku rasanya tak waras. Suhu di sekitar mendadak menjadi panas. Mari, kita tinggalkan tempat ini. Satu ... dua ... tiga, kabur!
Aku lari terbirit-birit. Samar-samar, Dewa dan teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal. Aku bergidik ngeri. Gila!
Tuhan, kuatkan perasaan Lentera, ya.
🦋
Entah mengapa, di part ini sedikit banget kata-katanya. Cuma 950+, hiks, enggak apa-apa deh.
Kira-kira, Lentera bakal kalah tidak, ya?
Oke, see you next part!
05 Maret 2021.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.