Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika luka bisa disembuhkan, apakah bekasnya juga bisa cepat dihilangkan? —Lentera Sagita.
🦋
Ketika temu saling menghampiri, tetapi diri seolah menolak untuk saling sapa, mereka tak lebih dari seorang bodoh yang menganggap jika tak saling mencintai maka harus saling menjauh. Tak sengaja tangan mereka menyenggol satu sama lain. Mungkin satu di antara mereka merasakan, tetapi tak ingin mengeluarkan sepatah kata apapun karena menganggap semuanya sudah benar-benar usai. Mungkin benar, mereka ingin memfokuskan diri pada pendidikan, tetapi apakah menjadi asing satu sama lain dapat menyelesaikan suatu masalah?
Lentera menoleh ke belakang, di mana Dewa tetap berjalan tanpa menoleh padanya. Ia kecewa. Namun, bukankah ini maunya? Ketika harus menjadi asing untuk orang yang sebenarnya yang ia inginkan berada di sampingnya.
Di sisi lain, Dewa menghentikan langkahnya. Akankah ini sebuah drama yang tengah ia lakoni? Jika ia bisa bertanya, drama macam apa ini? Ia hanya seorang remaja SMA biasa. Tak mungkin jika ia hanya stuck pada satu orang. Mungkin akan ada orang di masa depan yang membuatnya terpikat. Oh, ayolah. Hidup tak akan berhenti pada masa-masa seperti ini.
"Tanya gih sama hati lo. Lo bukan suka cewek, Wa. Lo suka Lentera. Kalaupun lo suka cewek, pasti ada yang akan buat lo terlepas sama Lentera nantinya," ucap Taksa menepuk pundak Dewa membuat Dewa menoleh.
Dewa berdecih. "Gue suka cewek. Gue cuma pernah terpikat sama Lentera. Bukan berarti gue nggak akan suka sama orang lain selain Lentera nantinya. Toh, ini cuma kisah cinta monyet SMA kayak biasanya. Udahlah."
Taksa mengernyitkan dahi. Ia menoleh pada Fajar yang tengah mengupil. "Bilangin gih, lo sama dia kan sama-sama kepala batu."
"Enak aja kalau ngomong. Kepala gue mah empuk kayak kepala bayi," protes Fajar sembari melotot.
Taksa sengaja mengetuk kepala Fajar dengan keras. "Iya, empuk."
Fajar mengusap kepalanya sembari mendumel. Lantas berlari mengikuti Taksa dan Dewa yang sudah menjauh. Di sisi lain, Dewa tengah memantulkan bola basket tak minat. Jujur, ia berkata seperti itu hanya untuk menghindari Taksa yang seperti bisa membaca isi hatinya. Dewa sengaja mengelak, walau Dewa tak yakin bahwa ia bisa membuktikan semua ucapannya.
"Duel sama gue sini. Kalau lo menang lo boleh minta apapun sama gue. Tapi, kalau gue yang menang, gue minta lo jujur semua perasaan lo ke Lentera sama gue." Taksa merebut bola itu dari Dewa sembari tersenyum remeh.
Dewa menghela napas. "Kenapa gue harus jujur sama lo? Lo siapa gue? Dan lo siapa Lentera? Nggak ada hubungannya sama lo," sewot Dewa tak terima.
"Ngomong aja kalau lo takut kalah. Gue temen lo, dan gue mantan pacar Lentera kalau lo lupa. Jelas ada hubungannya sama gue. Karena sebagai mantan pacar yang baik, gue harus pastikan mantan gue dapet yang lebih baik dari gue. Bukan cupu kayak lo, yang bisanya cuma bilang suka tapi nggak berani bertindak."