Cover : Pinterest
📌 Konflik ringan.
📌 Quotes setiap part hanya untuk melengkapi.
📌 Minim amanat.
📌 Belum revisi, masih banyak kesalahan.
📌 DILARANG KERAS PLAGIAT!
Kesalahan kecil yang dilakukan Lentera, membawa gadis itu pada Dewa. Cowok yang t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan buat nyaman jika akhirnya pergi tanpa adanya kabar. —Bricia Floe Maula.
🦋
Dewa menghela napas. Membuang waktu dengan menatap lokernya sedari tadi. Tak ada yang dilakukan. Hanya diam dan mengamati. Sebenarnya, tak seberguna itu Dewa di sana. Namun, nyaman yang Dewa dapatkan jika di sini. Tak ada yang melihat tingkah tak jelasnya. Hingga sebuah tepukan kecil mengagetkan lelaki itu. Lantas menoleh mendapati Maula yang tersenyum manis.
Mungkin temu kali ini agak canggung. Dengan status mereka yang dari teman berubah jadi mantan. Dewa berdehem pelan. "Ehh, sendirian?"
"Seperti yang lo lihat," jawab Maula kalem.
"O-oke."
Seperti yang diketahui, untuk saling sapa saja canggung. Hingga hanya ada hening yang menemani. Tetes-tetes air mulai turun dengan anggun, membasahi bumi sebagaimana mestinya. Angin sepoi menyentuh kulit dengan manja. Menghasilkan rasa dingin yang begitu terasa. Dewa yang melihat Maula kedinginan pun ingin memberikan Hoodie miliknya.
"Mau pakai?" tanyanya.
"Lo ragu," balas Maula sembari tersenyum kecil.
Lagi dan lagi anggukan Dewa membuat Maula menghela napas. Dia menyenggol Dewa menggunakan pundaknya. Lalu, tawa-tawa kecil yang sempat tak mereka rasakan kembali memenuhi kesunyian. Tawa yang menertawakan kebodohan mereka beberapa detik yang lalu.
"Kalau putus buat kita jadi secanggung ini, gue mungkin nggak terima tawaran lo kali itu," papar Maula sembari menghela napas.
Ingatan-ingatan kecil tak sengaja menghampiri Dewa sejenak. Cinta telah mengubah segalanya. Seandainya tak ada rasa, pasti ia, Maula dan Marsya tengah berada dalam jejak yang sama. Tertawa mengalahkan suara ramainya kendaraan, dan mungkin semuanya tak jadi seperti ini. Benar, cinta memang mengubah, tapi jika ego tak kalah dari akal, mungkin mereka masih bisa bersama.
Tangan Maula terasa menyentuh tangannya dan berakhir menggenggam. Menarik untuk mencari tempat yang setidaknya nyaman untuk digunakan bicara berdua. Hingga atap sekolah yang menjadi tujuan mereka. Menikmati rintik-rintik hujan berdua.
Dewa mengambil tangan Maula membuat gadis itu terkejut. Dirabanya tangan halus itu hingga bersentuhan dengan telapak tangannya yang kasar. Sekali lagi, tak ada debaran aneh yang ia rasakan. Dewa tetap melakukan hal yang sama hingga berulang kali. Lantas, beralih mengacak rambut Maula menggunakan tangannya.
Kenapa gue nggak ngerasain apa-apa ketika gue melakukan hal yang sama ke Maula seperti yang gue lakukan ke Lentera? batin Dewa lalu kembali menarik tangannya.
"Kenapa? Gue bukan Lentera, Wa," peringat Maula membuat Dewa gelagapan.
"Apaan? Kenapa jadi bawa tuh bocah? Nggak ada urusannya," sewot Dewa memalingkan wajah.
"Ngomong-ngomong, gue minta maaf soal waktu itu. Jujur, gue cuma butuh bantuan lo doang, tanpa ada rasa ingin balikan sama lo. Gue marah waktu tau Taksa jadian sama Lentera. So, gue bener-bener minta maaf. Cowok brengsek kayak gue emang langsung ngelakuin hal tanpa pernah mikir perasaan orang lain. Gue cuma pentingin ego gue sendiri. Sorry, La," terang Dewa tiba-tiba.
Maula terkekeh. Rasanya begitu perih ketika mengetahui hal yang sebenarnya. Namun, ia tak dapat melakukan hal yang banyak. Berdamai dengan hal yang sebenarnya menyakitkan adalah opsi yang tepat. Tak ada hal yang harus dibesar-besarkan.
"Tau gue, Wa. Gue juga mau minta maaf udah buat lo marahan sama Lentera waktu itu."
Dewa menggeleng. "Enggak, La. Lo buat gue sadar, bahwa sekeras apapun gue kejar hal yang bukan buat gue, itu juga bakal sia-sia. Gue nggak mau cuma karena hal sepele, hubungan persahabatan gue sama Taksa jadi renggang."
Maula mengangguk mengerti. Dan percakapan berakhir di situ. Hanya ada sisa waktu beberapa menit lagi untuk bel pulang berbunyi. Maula tertunduk. Ini waktu terakhir untuknya melihat sekolah ini, karena setelah ini, ia akan kembali ke tempat asalnya berada. Gadis berpenyakitan sepertinya harus benar-benar diperhatikan.
Hela napas terdengar panjang dan lelah. Untuk kesekian kalinya ia duduk di samping orang yang ia suka. Dengan mulut yang terbungkam rapat tak berani berbicara. Dengan tangan yang sebenarnya ingin menggenggam tangan hangat yang dulu pernah menjadi miliknya. Dengan tubuh yang masih terasa hangat oleh bekas pelukan. Dan dengan arti tatapan yang sebenernya masih ada keinginan untuk memiliki.
"Bel udah bunyi, La. Pulang, yuk."
Maula mengangguk. "Ayo."
Mendapati Dewa yang sudah berjalan mendahului dirinya, Maula tau bahwa bukan dirinya lagi yang Dewa inginkan. "Wa!" panggil Maula pelan.
"Ya?"
Maula menghampiri Dewa dan menepuk pundak lelaki itu. "Baik-baik di sini lo. Jangan bandel!"
"Dan ... jangan gunakan orang lain untuk tameng pertahanan lo. Gue juga manusia biasa, Wa. Punya perasaan. Gue bukan robot yang bisa lo gunakan seenaknya."
Tatapan pedih itu dapat Dewa rasakan. Apakah ini artinya ia akan kehilangan sahabatnya?
"Gue duluan, Wa."
Maula segera beranjak pergi. Meninggalkan sisa luka yang rasanya kembali terbuka. Ia bukan hanya kehilangan seorang mantan, tetapi seorang sahabat. Dewa yang ia kenal dulu tak seperti ini. Memang, semuanya telah berubah seiring berjalannya waktu. Tak sengaja, ia menabrak dada bidang seseorang. Begitu keras dan menyakitkan.
"Lo kenapa?" tanya Brian panik sembari menyentuh pipi Maula.
"Nggak ada," jawab Maula ketus.
Brian berdehem lelah. Lantas membawa Maula pada dekapannya. Di jauh tempat mereka berdiri, ada Dewa yang terdiam. Ia kehilangan orang berharga di hidupnya. Sahabat, teman sekaligus orang yang pernah mengisi hatinya. "Maafin gue, La. Maaf."
Mereka hanya sebatas remaja yang tak mengerti arti cinta. Namun, tulus mereka sebagai sahabat tak dapat terelakkan. Terkadang cinta tak harus memiliki, tapi dengan merelakan, semuanya akan baik-baik saja.
🦋
30 April 2021.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.