24 - Kolam Renang.

2.2K 214 6
                                        

Bersikap berbeda padamu adalah caraku menyampaikan rasa yang tak mampu untuk berbicara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bersikap berbeda padamu adalah caraku menyampaikan rasa yang tak mampu untuk berbicara.
–Ghama Dewa Baskoro.

🦋

Air yang begerlombang dengan tenang memenuhi penglihatan. Sebagian tubuhku sudah basah oleh air. Suara lantang Pak Anton menggema memenuhi ruangan telinga memanggil namaku, segera saja aku mengangkat tangan. Nasib sial selalu saja menghampiri di waktu yang tak tepat. Sialnya lagi, aku tak bisa berenang sekarang. Jika demikian, bagaimana nasib nilaiku? Aish!

"Tenang Ra, tenang. Tarik napas, jangan buang. Biar bablas," celetuk Senja.

Dengan keras dan puas aku mencubit lengan Senja. Mulutnya jika sudah menyeletuk memang tak dapat dikontrol. Suara peluit Pak Anton terdengar. Menandakan kami harus berenang ke sana dan kembali lagi ke sini. Sialnya lagi, mereka sudah berenang menjauh dariku. Mencoba menceburkan diri ke dalam air, tetapi bahkan seluruh badanku tak bergerak maju. Lihatlah, aku menetap di sini.

Aku mengeluarkan diri dari dalam air dengan sekuat tenaga. Sial, aku meringis menahan malu ketika Pak Anton menggeleng sembari melihat padaku. Tak mau ambil pusing soal nilai, aku segera naik ke atas. Beberapa kakak kelas dan teman sekelasku menyoraki ku. Mengejek dan lain sebagainya. Aish, apalagi mereka selalu saja membawa nama-nama Dewa di setiap ejekan mereka.

"Udah jangan malu. Sini, tatap gue," ujar Taksa sembari memegang daguku. Aku terdiam sesaat, rambutnya yang basah terkena air terlihat mempesona saat dilihat. Ngomong-ngomong, Taksa bahkan 50% lebih tampan dari Dewa. Sikapnya pun menyenangkan, tak salah jika aku harus mencoba menghargai perasaan Taksa kali ini.

Dia mengusap rambutku menggunakan handuk. Tampak telaten dan sabar. Tatapannya lalu turun pada bibirku. Dia mengusapnya pelan membuatku bertambah kikuk.

"Cantik," katanya.

Jika aku bisa berteriak, maka aku akan berteriak sekarang. Namun, aku masih memiliki rasa malu. Berdehem dan memalingkan wajah adalah cara yang paling tepat untuk menghilangkan rasa salting yang menghampiri.

"Bucin lo," ucap Dewa yang tiba-tiba saja datang dan pergi begitu saja.

"Bucin sama pacar salahnya di mana?" gumam Taksa. Dia lalu tersenyum padaku dan mengusap lembut kepalaku sekali lagi. Lalu tangannya turun untuk mencubit pipiku.

"Sana gih ganti baju, gue tunggu nanti. Jangan gemes-gemes, nanti gue tambah sayang."

Aku mengangguk. "Iya, Kak. Makasih."

Segera saja aku pergi. Bisa dibuat salah tingkah jika aku terus berada di sana. Apalagi dengan teman-teman Taksa yang selalu menggoda kami. Pandanganku mengedar. Semua teman-temanku sudah berganti baju. Termasuk Senja. Menghela napas, segera saja aku masuk dan berganti.

Ketika keluar, sudah tak ada orang satu pun. Aku segera pergi, jika tidak maka aku akan ketinggalan angkot. Namun, seseorang yang ada di belakangku menubruk membuat tubuh dan kakiku sedikit salah pijak. Berakhir dengan aku yang terjatuh di kolam paling dalam. Kejadian ini terlalu cepat hingga membuatku sedikit syok.

KAKAK KELAS [Selesai]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang