23 - Nomor Telepon.

2K 214 14
                                        

Ada yang tergerak, tapi tak terlihat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada yang tergerak, tapi tak terlihat. Menyuruh untuk tetap bersama, hingga lupa dia juga sudah ada yang punya.
-Ghama Dewa Baskoro.

🦋

Tangannya meremas bola voli yang ia pegang. Mendadak suasana hatinya menjadi buruk. Dewa mendengkus, membuang bola voli yang tadi ia pegang. Ia menghampiri Fajar yang tengah mengusir Senja yang selalu menemplok seperti cicak. Dewa berdehem. Mengambil satu botol air mineral dan meneguknya hingga habis.

"Ti ati ntar bucin jalur karma," sindirnya pada Fajar yang masih menggerutu sedari tadi karena Senja tak mau pergi.

"Sorry, nggak akan. Selera gue lebih tinggi daripada sama cewek yang sukanya ngejar duluan," kata Fajar pedas lalu meninggalkan Dewa dan Senja yang terdiam kikuk.

Dewa melirik Senja. "Coba lo nggak kejar-kejar si Fajar selama sehari ... aja. Lihat reaksi dia bakalan kayak gimana. Kalau dia nggak peduli ya udah berhenti. Lo boleh mencintai, tapi lo nggak boleh menganggu."

Mengambil tas, Dewa pergi sembari menenteng tasnya. Saat akan menuju parkiran, tatapan mata Dewa tertuju pada Taksa dan Lentera yang tengah bersenda gurau. Yang membuat Dewa seperti cacing kepanasan adalah novel yang Lentera pegang. Itu bukan novel perpustakaan melainkan novel yang sengaja ia beli kemarin. Khusus untuk Lentera. Garis bawahi itu.

"Sial. Gue kenapa, sih?" tanya Dewa kebingungan. Matanya menyorot pada Lentera yang kebetulan juga tengah menatapnya. Dewa mendesis, "Goblok! Nggak seharusnya lo di sini dan buat gue lihat lo lagi. Gagal move on, kan!"

Terdiam sejenak. "Emang kapan gue sama Lentera pernah jadian? Terus kenapa juga gue harus move on?" tanya Dewa pada dirinya sendiri. Kebingungan untuk kedua kalinya.

"Tak pernah terikat janji, tapi sudah memilih untuk pergi. Pacaran enggak pernah, eh udah mau move on. Masnya waras, Mas?" sahut Fajar tepat di telinga Dewa membuat Dewa terjengit kaget. Refleks, dia menendang perut Fajar. Walaupun pelan, tetapi itu tetap menyakitkan bagi Fajar.

"Salah gue apa sih Wa sama lo? Kalau enggak kepala ya perut gue yang jadi sasaran. Tambah jelek ntar gue! Nanti nggak ada yang mau kan nggak iye banget," oceh Fajar sembari membenarkan jambul khatulistiwa miliknya di spion motor Dewa.

Dewa menaikkan satu alisnya. "Lo jelek kayak gitu aja Senja mau, gimana kalau lo ganteng? Pikirin lagi, kalau nanti dia pergi lo bakal merasa kehilangan. Bucin jalur karma mampus lo!" nasihat Dewa.

Fajar menoleh. Wajahnya ia buat-buat sok syok. "Ga peduli, bye," balas Fajar cuek. Bersiap pergi, tetapi sebelum itu dia menoleh pada Dewa lagi. "Gue ganteng, sorry. Sejak jadi sperma gue juga udah ganteng. Dahlah."

Fajar melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dewa menghela napas lalu mengelus dadanya. Heran jika dia bisa mempunyai sahabat seperti Fajar. "Menjemput kematian dia," gumamnya pelan karena Fajar melajukan motor begitu cepat.

KAKAK KELAS [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang