42-📝 Inikah Akhir?

56 3 2
                                    

Jika terlalu sulit mempercayai, mohon jangan lepaskan ikatan suci ini.
.
.
.

Happy Reading

Punggungnya menyentuh tembok, lorong sepi menjadi saksi bisu tangisan yang naik setelah beberapa menit dipendam. Telapak tangan menjadi alat untuk membisukan tangisan.

Kejadian yang mengawali posisinya saat ini berputar dalam ingatan. Sesak kembali menghampiri dadanya. Ia adalah seorang perempuan pengganti, harusnya ikhlas jika sang pemeran utama kembali.

Cincin yang melingkar di jari manisnya ia pandangi kemudian mengelus barang itu perlahan. Cantik. Berbeda dengan kenyataan sebenarnya.

Ia lepas, semakin menjauhi jari, air bertumpah lebih deras. Hingga cincin itu terlepas, ia menggenggamnya dengan telapak tangan. Meletakkannya di dada.
Ada risau menghantui jika barang itu benar-benar pergi.

Pergi. Jika itu harus terjadi, ia masih membutuhkan waktu. Ketakutannya saat ini, bertemu dengan Fazrin. Ia takut jika sebuah kata yang akan mengubah keadaan terucap dari bibir lelaki itu.

Masalahnya kini ia begitu terguncang, keinginannya menemui orang tua kandung itu justru berakhir seperti ini. Ia meninggalkan sarang, begitu kembali sarang itu telah porak-poranda.

Sudah pasti akan ia perbaiki. Tapi bagaimana dengan keputusan dari salah satu pihak? Belum ada satu bulan ia dan Fazrin saling menggenggam, rasa cinta lelaki itu bahkan belum tentu padanya.

Masih rapuh dan ada kemungkinan cinta lama yang akan bersemi.

Drttt ... Drttt ...

Bunda is calling ...

Buru-buru Mafka menghapus jejak tangisan juga menstabilkan suara. Ia tahu bahwa ibu mertuanya belum mengetahui kondisi sang anak di sini. Terlebih kakak iparnya juga telah mewanti-wanti agar jangan memberitahu, karena itu akan semakin membuat keadaan runyam. Biarkan ia yang mengurus masalah ini bersama suaminya.

"Assalamualaikum, i-ya Bun."

"Waalaikumsalam. Kok lama angkat teleponnya?" Suara ramah itu terdengar curiga.

"Maaf Bun, abis dari kamar mandi," jawabnya bohong.

"Oh gitu. Bunda mau bilang kalo Mela sudah melahirkan, tadi udah coba hubungi Az tapi gak diangkat. Dia, gak ada di rumah?" tanyanya tentu membuat Mafka menggigit bibir bawah.

"Alhamdulillah Bun, gimana keadaan anak sama ibunya?" Mafka mencoba mengalihkan dengan menanggapi berita yang dibawa ibu mertuanya.

"Baik, semuanya sehat. Bayinya perempuan, gembul banget, duhh Bunda gemes banget!" Tawa dari ibu mertuanya membuat Mafka juga tersenyum meski masih enggan melebar.

Syukurlah ibu mertuanya tidak membahas Fazrin lagi. Bunda Beralih membicarakan bayi yang merupakan cucu kedua, dari anak pertamanya itu.

"Mafka, nanti kamu sama Fazrin ke Jakarta lagi ya, nengok Mela sekalian bantu-bantu buat acara akikahan. Bilang ya sama suami kamu. Udah dulu, Bunda dipanggil Ayah. Assalamualaikum, menantu Bunda."

"I-ya Bun, waalaikumsalam." Panggilan pun terputus.

🐚🐚🐚

Plastik berwarna hitam ia bawa untuk menemui Fazrin. Semalam ia memilih menghindarinya, ia masih berlarut dalam kesedihan yang mungkin saja akan terjadi juga hari ini.

Huh. Ia menghela napas, tepat saat berada di pintu ruangan. Dengan pelan ia membuka handle pintu. Suasana putih dan biru terlihat oleh matanya, juga seseorang yang tengah terbaring masih menutup mata.

Harapku HadirmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang