Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

12-📝 Bersemu merah

43 5 0
                                        

Beri hamba kekuatan untuk bisa bertahan saat pemeran utama telah kembali.

Mobil merah berhenti tepat di sebuah rumah yang memiliki sebuah gantungan berbunyi saat angin menerpa.

Seorang perempuan berhijab menghampiri mereka setelah bel pintu ia tekan.

"Ada apa ya?" ucapnya.

Mafka diam, ia tertegun melihat wajah pujaan Fazrin. Dia lebih cantik dari foto itu, sepertinya memakai apapun perempuan itu tetap cantik.

"Ohh, ini kami mau mengembalikan dompet. Di sini tertera kartu nama." Nadya menyodorkan sebuah dompet yang ditemukan Ilyasa.

"Ya, maaf baru mengembalikannya," ucap Ilyasa tersenyum sumringah.

"Oh, tidak apa-apa. Saya berterima kasih telah mengantarnya, kalo tidak saya mungkin harus membuat ulang kartu tanda penduduk." senyumnya.

Ilyasa membalas senyuman itu, tidak dengan Nadya yang melirik Mafka. Dia pasti semakin tersayat. Melihat itu, Nadya mencoba mengakhiri percakapan ini.

Tapi saat akan membuka mulut, suara Syafa lebih dahulu menjeda. "Alhamdulillah, dan sepertinya kita satu kampus," ucap Syafa meruntuhkan pertahanan Mafka.

Jleb.

Kata itu membuat Mafka linglung, untung saja Nadya menahannya dan Syafa tidak melihat itu.

Melihat itu Nadya cepat-cepat mengakhiri semuanya.

"Oh, maaf kami tidak bisa lama. Kami permisi." Nadya mengedipkan mata meminta persetujuan Ilyasa.

Ilyasa sempat akan berbicara tidak benar, tapi ia melihat kedipan itu.

"Kami pamit ya Syafa?" pungkas Ilyasa akhirnya. Mereka pun mengucap salam dan Mafka menampilkan senyum diselingi helaan napas.

Namun saat tengah memasuki mobil, Syafa memanggil kembali.

"Tunggu!" tahannya.

Ilyasa membuka kaca mobil, "Apa?"

"Maaf boleh tau nama kalian?"

"Saya Ilyasa."

"Kami duluan." alih-alih menjawab nama,  Nadya berkata seolah-olah menyuruh Ilyasa menancap gas.

Syafa memandang mobil itu pergi, ia tak mengerti dengan kedua perempuan itu. Apa mereka tidak suka kepadanya?

Tapi Syafa tak menghiraukan itu, ia bersyukur dompet nya bisa ketemu bahkan ada yang berbaik hati mengantarnya.

🐚🐚🐚

Di mobil Mafka menghadap jalanan melalui kaca mobil, air mata dengan pelan meluruh. Nadya membiarkan, biarkan Mafka tenang dan setelah dia siap mungkin dia akan bercerita.

Ilyasa pun merasakan hal yang aneh dengan kedua perempuan yang tiba-tiba memiliki raut wajah yang sedih.

Untuk menetralkan kesunyian, Ilyasa pun bergurau membicarakan seorang perempuan yang memiliki senyum yang menawan.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang